Kamis, 05 Mei 2011

Dark Side

DARK SIDE Tittle : DARK SIDEWarning : Never try to touch your dark side if you can’t handle it because you’ll never know what will happen to you after this. Don’t try at home XDSummary : You’ll never know what you have inside on you before you find it, before you feel it, before you taste it like the way you taste your skin. Maybe you didn’t want to know because it’s too strange, too dangerous, too dark. That's a dangerous place and no way to back off again Sebuah seringai muncul begitu saja di bibir itu, di wajah itu ketika pintu kamarnya tertutup dengan rapat. Matanya nyalang menatap ke segala arah bersinar berbahaya tertimpa oleh cahaya rembulan yang menembus masuk melalui celah-celah jendela yang juga tertutup rapat. Nafasnya naik turun tak terkendali menggambarkan betapa kebencian itu kembali menguasai hatinya. Ketika pintu kamar itu tertutup rapat maka tak akan ada lagi yang perlu disembunyikan di sana, tak perlu ada lagi sandiwara yang dipertontonkan dengan paksa muncul di wajah itu, tak ada yang perlu disembunyikan tidak juga kebencian itu yang menyelimuti seluruh relung-relung hatinya.Dia membaringkan dirinya di ranjang menatap atap-atap di atasnya seolah sedang ada pertunjukkan yang dipertontonkan di sana untuknya, hanya untuknya. Merasakan kebencian itu sekali lagi semakin menguasai hatinya, merasakan rasa sakit yang dia pendam itu kembali hadir di dalam hatinya. Matanya bergerak, berputar dengan ganas mengikuti setiap gerakan semua gambaran di dalam kepalanya itu. Nafasnya semakin naik turun tak terkendali ketika gambaran-gambaran di dalam kepalanya itu mulai bersuara, lirih kemudian semakin keras hingga memenuhi seluruh sel di dalam otaknya menguasai seluruh emosi yang seolah telah bersiap untuk meledak, meledak bersama air mata yang tanpa dia sadari telah keluar begitu saja dari kedua bola matanya. Tak ada suara disana ketika air mata itu keluar, tidak juga isak tangis seolah dua sungai air mata itu hanya muncul begitu saja tanpa emosi, seolah itu adalah bagian dari kebenciannya yang tak dapat lagi dia tahan lebih lama di dalam dirinya, seolah itu adalah lahar panas yang keluar dari gunung berapi puncak amarahnya. Sungai air mata yang semakin menambah kehororan tatapan matanya, membuatnya semakin bersinar mengerikan ketika tertimpa cahaya rembulan, setiap tetesnya menggambarkan bagaimana setiap sel dari tubuhnya saat itu berteriak. Meneriakkan semua perasaannya, perasaan yang tak pernah dia tunjukkan pada siapa pun bahkan tidak pada bayangannya di cermin. Hanya dirinya, hatinya, sisi hatinya yang lain, hatinya yang gelap yang membiarkan dia melepaskan semua topeng sandiwara yang selalu dia kenakan, topeng sandiwara yang bahkan terkadang dia gunakan untuk menipu dirinya sendiri.“Lihatlah apa yang telah kau lakukan! Kau hanya membawa pengaruh buruk pada adik-adikmu!!”“Goblok! Tolol! Brengsek! Bajingan! Anak Setan!!”“Kau tahu rumah ini terasa begitu tenang ketika kau tak berada di sini, kau hanya membuat suasana rumah ini menjadi kacau! Lebih baik kau tak perlu pulang ke rumah ini”Suara laki-laki itu menggema semakin keras di gendang telinganya. Bayangan-bayangan tentang laki-laki itu, ayah tirinya yang selalu berteriak keras padanya dan menimpakan semua masalah yang terjadi di sekelilingnya memenuhi seluruh otaknya, memupuk semakin subur kebencian yang telah tertanam di dalam hatinya lama.Sungguh, betapa dia membenci semua gambaran-gambaran di dalam kepalanya itu kini, membenci bagaimana cara laki-laki itu berteriak padanya, bagaimana cara laki-laki itu selalu menatapnya seolah dia adalah onggokan sampah yang tak berguna. Dan betapa dia lebih membenci setiap ekspresi yang dia tunjukkan saat itu. Betapa hanya mata itu yang selalu berusaha menjawab semua cacian itu, betapa hanya tatapan itu dan… dan… “Persetan!” dan hanya kata itu yang keluar dari mulutnya. Tak perduli betapa hatinya saat itu berteriak. Bagaimana hatinya tak pernah bisa mengerti mengapa semua itu selalu ditimpakan padanya. Bagaimana hidup selalu membawanya ke sudut yang salah, ke sudut yang berusaha untuk menyakiti hatinya.Dia membencinya, dia sangat membencinya…Tak ada gerakan yang ditunjukkan oleh makhluk di dalam ruangan itu. Hanya tubuhnya yang naik turun dengan begitu kentara bersama dengan nafas berat yang keluar dari dua lubang hidung itu dan dua bola matanya yang berputar-putar tak lagi terkendali. Giginya semakin rapat dan menyatu menimbulkan suara gemelatuk di sana. Tangannya mengepal keras, begitu keras, menembuskan kuku-kuku tangannya di telapak tangannya sendiri. Meninggalkan rasa sakit yang tak tertangguhkan di sana, rasa sakit yang justru tanpa dia mengerti begitu terlihat menarik, begitu nikmat…“Jangan berusaha menyiramkan minyak di atas api. Aku tak tahu apa yang kau tahu tapi jangan berusaha menghancurkan rumah tanggaku!”Gambaran tentang wanita itu kembali berputar di dalam kepalanya, menatap tajam dirinya yang baru berumur sebelas tahun. Menatap gadis cilik di dalam kepalanya itu yang tak benar-benar tahu apa yang sebenarnya sedang wanita itu katakan. Tak tahu betapa dia menyimpan rahasia itu terlalu lama di dalam hatinya. Menyimpan apa yang dia lihat, dia dengar, dan dia rasakan. Mengendapkannya sebagai satu-satunya orang yang mengetahui semua kebusukan itu, tentang perselingkuhan ibu kandungnya itu. Tak tahu haruskah dia menyimpannya atau mengungkapkannya dan membuat istana fatamorgana di atas pasir itu benar-benar hancur.Dia menyimpannya, dia menyimpannya sendiri tanpa satu orangpun tahu. Tak perlu ada kehancuran lain baginya, tak perlu melihat ketiga menara rendah dan ringkih itu hancur menjadi kumpulan pasir yang akan dengan mudah di terbangkan oleh angin, di ombang ambingkan tanpa arah seperti dirinya. Dia tak memerlukan semua itu.Dia memejamkan matanya berusaha meredam semua bayangan-bayangan itu dari dalam kepalanya, merasakan setiap desiran darahnya mendidih mengalir ke seluruh rongga-rongga di dalam tubuhnya, mengalir melewati ratusan ribu nadi yang menyebar di seluruh bagian tubuhnya, menyebar seperti akar-akar hidup yang bersumber di satu sudut, di dalam hatinya yang kini telah hancur menjadi ribuan keping porselain berserakan di dalam rongga dadanya, merasakan nadi-nadinya terbakar oleh darah yang mendidih itu, berdenyut tak terkendali seolah juga ingin berteriak saat itu.Dia semakin merapatkan genggaman tangannya berusaha melampiaskan semua amarahnya disana, membuat kuku-kuku itu semakin keras menyakiti telapak tangannya, menancapkan kuku-kuku itu semakin dalam di sana, semakin dalam hingga aliran darah segar mengalir dari kedua telapak tangannya.Menetes dengan irama yang begitu pelan, begitu gemulai, begitu indah, begitu sempurna…Sempurna seperti rasa sakit hatinya yang seolah juga ikut meninggalkannya bersama dengan setiap tetes darah segar yang mengalir dari kedua telapak tangannya itu.Sempurna seperti warna merahnya yang berusaha menantang sang rembulan yang kini ketakutan menatapnya.Sempurna seperti aroma candu yang akan mampu menenangkan pikirannya, bau darah segar yang menunjukkan padanya bahwa dia tak pernah benar-benar kalah dengan pertarungan itu, menunjukkan padanya bahwa dia masih berdiri menantang.Sempurna, bahwa dia memiliki hidupnya sendiri, bukan laki-laki itu, wanita itu atau pun mereka dan orang-orang ituSosok itu bangkit dari tempatnya berjalan ke sisi ranjangnya dengan darah yang masih mengalir dari kedua telapak tangannya yang tercabik meraih sebuah benda tajam dari sana. Kembali menatap darah segar yang masih mengalir di sana, tersenyum penuh kemenangan. Menggoyang-goyangkan cutter itu di udara menimbulkan pantulan-pantulan yang mengerikan di dinding ruangan itu. Dia terus menatap cutter itu yang berkilau di matanya, lama, penuh dengan kelaparan. Mengangkat tangan kirinya menyambut cuter tajam itu yang dengan senang hati menggoreskan dirinya di atas kulit tipis berwarna putih pucat itu.Darah segar mengalir dengan deras di sana, kembali begitu pelan, begitu gemulai, begitu indah, begitu sempurna…Dia tersenyum puas menatap setiap tetes darah yang mengalir di sana. Tak ada rasa sakit yang dia rasakan di sana, hanya kemenangannya, hanya sisi gelapnya yang menunjukkan dia masih memiliki hidupnya, hanya perasaan tenang yang kali ini akan membawanya menuju ke mimpi indah ke tidur tenang yang telah begitu lama meninggalkannya… Jika semua hanya mimpi maka biarkan aku terbangun dengan perasaan paling bahagia yang pernah di rasakan manusiaJika semua hanya mimpi maka peluklah akuJika semua hanya mimpi kumohon selamatkanlah aku dari mimpi buruk iniJika semua ini hanya mimpiKatakan padaku bagaimana begitu sulit bagiku untuk terbebas dari semua iniKumohon bangunkanlah akuKatakan padaku jika ini hanya mimpiMaka tak akan ada lagi yang perlu kusesaliJika semua hanya mimpiKau tak akan pernah tahu betapa perasaankuJika ini hanya sebuah kisah dan dongeng sebelum tidur bagiku A/N kalau ada yang rada bingung sama endingnya soalnya kaya adegan bunuh diri, well, itu bukan tindakan bunuh diri. Tindakan itu dinamakan self above (tindakan menyakiti diri sendiri agar bisa menyamarkan rasa sakit yang dia rasakan di dalam hatinya) jadi dia sama sekali nggak mati hanya saja dia menemukan the dark side dari dirinya, memenjarakan dia disana selamanya…

Tidak ada komentar: