Minggu, 08 Mei 2011

Arti Seorang Adik

Namaku Naila, panggil saja Nia.Aku keturunan keluarga yang hidupnya tak berkecukupan, aku merasa diriku tak pantas untuk bersekolah lagi.Aku sekarang duduk dikelas 3 SMP, aku memiliki seorang Ayah yang gigih, seorang Ibu yang pekerja keras, dan seorang Adik yang menurutku tak berarti.Aku membenci Adikku, karena aku merasa setelah ia lahir aku selalu dikucilkan.Hari ini sekolah pulang cepat sekitar pukul 09.00an, aku langsung mengayuh sepeda bututku.Aku menuju kewarung Ibu.Aku pun memparkir sepedaku dipinggir warung, "Assalammualaikum Bu"salamku
"Walaikumsalam La, adikmu mana ? Biasanya dia pulang bersamamu ?"tanya Ibu sedikit cemas
"Huft..Biarkan saja ia pulang sendiri !"cetusku tak suka, aku sebal jika Ibu mencemaskan Adikku.Tak lama kemudian, seorang gadis kecil mengenakan seragam merah putih pun muncul.
"Assalammualaikim Bu, eh ada Kak.Nia"salam Adikku yang bernama Ziara
"Walaikumsalam Ra, kamu naik apa ?"tanya Ibu cemas
"Oh..Ara tadi jalan kaki Bu"jawab Ziara
"Ya ampun ! Kakakmu memang jahat tak mau menjemputmu !"kata Ibu sambil melirikku.Aku pun kesal melihat Ibu seperti itu.
"Tak apa Bu, Ara kan sudah besar Bu, jadi bisa pulang sendiri"jawab gadis kelas 5 SD itu dengan senangnya
"Huh..Jangan pasang muka seperti itu ! Aku tak suka muka seperti itu !"bentakku kepada Ara
"Maaf Kak, Ara cuma ingin bersikap seperti Kak.Nia saja"sesal Ara.Sebenarnya aku tak tega melihat muka Ara seperti itu, tapi aku tetap membencinya.Aku pun duduk dibangku, Ibu pun memberikan sepiring nasi dengan lauk ikan dan sambal terasi kesukaanku.
"Ibu, Ara juga mau !"pinta Ara
"Oh..La kamu suapin Ara ya"pinta Ibu
"Wa plis ya Kak"pinta Ara senang
"Makan sendiri !! Dasar manja !! Kalau kita kaya baru kamu boleh manja !! Tau !"bentakku kesal, lalu aku pun pergi menaiki sepedaku.Aku pergi ketaman.Sampai disana aku memarkirkan sepedaku didekat pohon.Aku pun langsung merebahkan tubuhku dirumput yang subur nan hijau.Aku memandang langit biru, penug dengan awan putih, ingin rasanya tidur diatas awan yang lebut, bahkan melebihi kelembutan kapas.Aku pun mulai meneteskan air mataku, aku sedih akan semua yang menimpaku.
"Ya Allah, kenapa kau harus memberiku seorang Adik sepertinya ? Kenapa kau memberikan sifat manja kepadanya ?"tangisku, lalu aku pun terlelap.
Seorang gadis kecil membangunkanku.
"Bangun Kak"kata Ara
"Ngapain kamu !?"bentakku
"Ara hanya ingin mengatakan bahwa Ibu menyuruh Ara untuk menyari Kak.Nia"jawab Ara lembut.Aku pun menaiki sepedaku, aku tak peduli pada Ara.Ku lihat kebelakang, Ara terdiam, aku kasihan padanya.Aku pun menyuruhnya naik kesepeda.Aku pun sampai dirumah dengan Ara, Ibu menyambut kami atau hanya menyambut ARA !!
"Aduh anak Ibu sudah pulang"kata Ibu sambil memeluk Ara, aku pun langsung berlari kekamar.Dikamarku yang kumuh, aku menangis, tangisku semakin keras, mungkin dapat didengar dari luar.Pagi menjelang, aku dan Ara sedang mencabut rumput untuk sapi kami.Saat pulang kami berjalan kaki.Saat dijalan raya, aku menyeberang duluan, padahal ada sebuah mobil melintas, aku pun terdiam, rumput yang ku bawa berjatuhan.Tak lama aku pun terpental, ternyata Ara mendorongku, lalu Ara pun tertabrak, mobil itu kabur meninggalkan korbannya.Aku langsung berlari kearah Ara.Aku menangis.
"Ara bertahan dik, aku ingin kamu tetap hidup"kataku sambil memeluk Ara
"Tak usah Kak, Ara senang dapat merasakan pelukkan Kakak"kata Ara yang sudah berlumuran darah
"Maafkan Kakak Ra, aku udah jadi Kakak yang jahat buat kamu"sesalku sambil berlinang air mata
"Kakak baik kok, Kak titipkan salamku untuk Ibu dan Ayah, katakan bahwa Ara sayang mereka"kata Ara
"ARA JANGAN PERGI"kataku, dan Ara pun sudah tak bernyawa, aku menangis sambil menjerit memanggil nama Adikku.Lalu aku pun mengendong Adikku kerumah, lalu aku bilang kepada Ibu agar menguburkan jasad mayat Adikku ini.Bertahun-tahun aku melalui hidup tanpa seorang Adik, aku pun baru menyadari ternyata arti seorang Adik itu sangat penting, dan aku menyesal sudah menyia-yiakan Adikku.Ziara miss you so much !

Tidak ada komentar: