Rabu, 27 April 2011

Makanan Sehat Untuk Tubuh yang Kuat.


Setiap orang pasti ingin sehat, itu sudah pasti. Tapi mungkin sebagian orang tidak tahu bahwa menjaga kesehatan salah satunya adalah dengan menjaga pola makan. Semua orang ingin sehat tapi tidak mau memperhatikan apa yang mereka makan. Sekarang banyak makanan siap saji yang dijual di restoran dengan harga murah, penyajian yang menarik, rasa enak, dan cepat dalam menyajikan siapa yang tidak mau? sya sendiri pun pasti mau. nah, namun sebagian orang pasti tidak sadar dengan apa yang mereka konsumsi. Biasanya makanan yang cepat saji merupakan makanan yang banyak memakai bahan pewarna, pengawet, pemanis buatan, bumbu yang tidak alami. Para penjual tidak memperhatikan itu, yang penting dagangan mereka laris.

Nah, padahal dimakanan siap saji bisa saja terdapat kandungan-kandungan yang tidak diperlukan tubuh, seperti lemak yang berlebih, bumbu-bumbu, pewarna,dll. nah semua itu tidak baik untuk tubuh, mungkin dalam jangka waktu pendek tidak akan muncul keluhan. Tapi untuk efek jangka panjang bisa saja terasa di usia tua.

Nah, mari kita makan makanan yang sehat, perbanyak makanan berserat, bervitamin. makanan yang sehat itu tidak harus mahal, makanan sehat adalah makanan yang mencukupi kebutuhan nutrisi yang diperlukan oleh tubuh. Jika anda tidak suka makanan berserat, maka anda bisa juga menyajikannya dengan bentuk lain. Carilah menukanan sehat yang sesuai dengan selera anda.

Jadi marilah mulai sekarang kita perbanyak makan makanan yang sehat. Saya juga belajar untuk makan sehat, kurangi makanan yang banyak mengandung pengawet dan bahan yang lainnya. perbanyak makan sayur dan buah buahan.

Pasangan Jiwa

Andri telah beranjak dewasa. Sudah saatnya ia mencari gadis yang baik untuk dijadikan istri. Tapi sampai saat ini, ia belum juga berhasil. Bukan suatu hal yang aneh. Ia memang terlalu mempertimbangkan bibit-bebet-bobot calon istrinya. Maka, saat musim panas mulai bertiup, Andri melakukan perjalanan ke Yogya. Di tengah perjalanan, Andri memutuskan untuk beristirahat di sebuah rumah penginapan yang berada di Sekitar Malioboro. Kebetulan ia bertemu dengan teman sekolahnya dulu. Maka Andri tak segan untuk menceritakan maksud perjalanannya itu. Seperti gayung bersambut, temannya menyarankan Andri untuk mencoba melamar anak gadis keluarga Surya. Menurut temannya itu, keluarga Surya adalah keluarga yang status sosial ekonominya sederajat dengan

Andri. Lagipula, gadis itu sangat cantik dan terpelajar. Andri girang bukan main. Sebelum berpisah, teman Andri berjanji untuk mempertemukannya dengan 'Pak Comblang' dari keluarga Surya, esok pagi. Pak Comblang inilah yang akan meneruskan data pribadi Andri kepada gadis tersebut. Bila keluarga itu berkenan menerimanya, maka Andri akan segera berkenalan, sebelum lamaran resmi atau khitbah diajukan. Kegembiraan yang meluap-luap memenuhi rongga dada Andri. Dibentangkannya sajadah, lalu ia mulai sholat istikhoroh. Baru kali ini Andri merasa melakukannya dengan sepenuh hati, dengan kepasrahan yang murni... Ah... Tak terasa air mata Andri berjatuhan. Diam-diam menyelinap suatu penyesalan. Mengapa ia baru bisa khusyu' dan dapat merasakan ikatan yang erat dengan Allah, ketika ada masalah berat dan serius yang harus ia hadapi? .....

Waktu subuh belum lama berlalu, namun Andri telah bersiap untuk pergi menemui Pak Comblang. Makin cepat makin baik, pikirnya... Di bawah sinar bulan sabit yang kepucatan, Andri bergegas menuju tempat itu. Fajar belum juga merekah ketika Andri sampai di tempat yang dijanjikan. Sepi sekali... Nyanyian jangkrik perlahan menghilang. Andri benar-benar sendirian. Di tengah kegamangan hatinya, Andri mencoba mengitari bangunan itu. Seperti sebuah musholla kecil. Cahaya lilin yang memantul di sela-sela kaca jendela, membangkitkan rasa ingin tahunya. Andri berjingkat ke arah jendela. Ditempelkan matanya ke celah-celah...

"Hei, masuklah!" "Jangan mengintip seperti itu!" Andri tersentak. Rasa malu, kaget dan takut berbaur menjadi satu. "Ayo, masuklah. Jangan takut!" Suaranya lebih lembut namun tetap berwibawa. Andri ragu-ragu. Tetapi rasa ingin tahu sedemikian menyerbunya. Akhirnya ia memberanikan diri melangkah ke dalam. "Kemarilah!" ajaknya tanpa melihat muka Andri. Andri memperhatikan dengan penuh seksama. Laki-laki itu belum terlalu tua, tapi wajahnya memancarkan kebaikan yang seolah-olah bersumber dari seluruh aliran darahnya. Bijak, arif, lembut namun tegas. Tentulah ia pengemban amanah yang luar biasa, pikir Andri. Laki-laki itu duduk di atas permadani sambil membaca sebuah buku. Lalu ia berkata perlahan : "Belum saatnya Andri .... Belum saatnya." Andri menatap wajahnya dengan penuh kebingungan. Lalu laki-laki itu kembali melanjutkan.

Kali ini ditatapnya Andri dengan ketajaman jiwa. "Kau tahu? Semenjak seseorang ada dalam kandungan ibunya, Allah Ta'ala telah menetapkan 3 hal untuknya. Kau sudah tahu bukan! Salah satu di antaranya adalah jodohnya.. pasangan hidupnya... Hmmmm..... seperti benang sutera." "Ya, seperti benang sutera yang diikatkan di antara mereka berdua. Kepada kaki laki-laki atau bayi perempuan yang lahir dan ditakdirkan berjodohan satu dengan yang lainnya. Begitu simpul diikatkan, maka tak ada suatu hal pun yang dapat memisahkan mereka." "Salah seorang diantara mereka mungkin saja berasal dari keluarga yang miskin, sedang yang lainnya dari keluarga yang kaya. Atau mereka terpisah bermil-mil jaraknya, bahkan mungkin ada yang berasal dari dua keluarga yang saling bermusuhan. Tapi pada akhirnya, bila saatnya telah tiba, mereka akan menjadi suami istri. Tak ada suatu hal pun yang dapat mengubah takdir itu." Laki-laki itu terdiam sesaat. Andri kini sudah sepenuhnya duduk terpekur di hadapannya. Kalimat demi kalimat disimaknya dengan seksama.

"Jodoh adalah masalah yang paling ajaib dan paling gaib. Suatu rahasia kehidupan yang tak akan pernah tuntas untuk dimengerti... Bayangkan... Dua anak yang berbeda, tumbuh di lingkungannya masing-masing. Sebagian besar mungkin tidak menyadari kehadiran satu dengan lainnya. Tapi bila saatnya tiba, mereka akan bertemu dan mengekalkan ikatannya dalam tali pernikahan." "Kalau ada wanita atau laki-laki lain yang muncul di antara keduanya, ia akan terjatuh. Ia tak akan mampu melewati bentangan tali sutera yang telah diikatkan pada mereka.... Ah, kau pasti pernah melihat orang yang patah hati bukan? Hhhhh, sebagian orang yang bodoh dan tak kuat menahan cobaan, memilih mati daripada patah hati. Bukan takdir yang memilihnya untuk bunuh diri... Itu pilihannya sendiri, ia cuma tak sabar menanti saat pertemuan itu datang." "Ketahuilah,Andri... Masalah jodoh adalah rahasia Allah... Kau harus dapat berdamai dengan takdirmu."

"Bagaimana dengan aku!" sela Andri. "Apakah aku akan berhasil menikah dengan anak gadis dari keluarga Surya? Apakah ia takdirku?" tanyanya tak sabaran. Laki-laki itu tersenyum. "Belum saatnya Andri... Belum saatnya! Suatu saat nanti, kau akan menikah dengan seorang gadis shalihat, cantik dan pintar. Pun dari keluarga yang terhormat. Kelak, setelah menikah, kalian akan mempunyai anak laki-laki. Dan anakmu akan menjadi pedagang yang terpelajar. Ia dermakan kekayaannya untuk agama Allah. la juga akan menjadi anak yang senantiasa memelihara kedua orang tuanya, meskipun kalian sudah tua renta nanti... Hal ini tak lepas dari peranan ibunya dalam mendidik anak itu." "Tapi itu nanti. Bila calon istrimu telah mencapai usia 17 tahun. Sayangnya, saat ini dia masih berumur 7 tahun." "Hah!" Andri kebingungan. "Jadi saya harus membujang selama 10 tahun??!" Andri menatap tak percaya. Ia berharap semua hanya kemungkinan karena ia salah dengar saja. Andri mencari kesungguhan di sana... Tapi semua sia-sia... Air muka laki-laki itu tak berubah sedikit pun. Dan Andri menyadari semua adalah kebenaran. "Kalau begitu, di mana dia sekarang? Dimana saya dapat menemui calon istri saya? Tolonglah?!" Andri memohon padanya. "Oh, gadis itu tinggal dengan wanita penjual sayur. Tak jauh dari sini. Setiap pagi, wanita itu datang ke pasar dan menjajakan sayurannya di sebelah kios ikan."

Kukuruyukkkkk....!! Suara nyaring ayam jantan memecah keheningan... Andri tersentak. Kukuruyukkkkk....!! Kokok nyaring ayam jantan membangunkan Andri dari tidurnya. Ah.. rupa-rupanya ia tertidur di atas sajadah... Alhamdulillah, waktu subuh belum habis. Andri bersegera mengambil wudhu... Sehabis sholat subuh, Andri kembali teringat mimpinya. Seolah semua menjadi teka-teki. Andri belum tahu apakah harus menganggapnya sebagai jawaban atas sholat istikhorohnya atau tidak. Untuk mcnyingkap tabir mimpi itu, cuma ada satu cara yang bisa dilakukannya : mencari gadis kecil yang katanya calon istrinya itu! Lalu Andri pun bergegas ke pasar terdekat. Sepanjang jalan ia berdoa dan berjanji. Berdoa agar calon istrinya memang benar-benar baik bibit, bebet dan bobotnya. Sebagaimana telah diisyaratkan dalam mimpi. Dan ia berjanji untuk menerima takdirnya dan berusaha menjadi muslim yang baik. Lebih baik dari kualitasnya sekarang.

Fajar telah lama merekah saat Andri tiba di sana. Orang-orang mulai melakukan kegiatannya. Pembeli mulai berdatangan. Ramai... Namun belum seramai satu jam yang akan datang. Maka Andri lebih leluasa untuk mengamati sekitarnya. Matanya berkeliling mengitari pasar, lalu tertumbuk pada sosok kecil di samping kios ikan. Wanita itu tua, kotor, lusuh. Kumal. Rambutnya telah keabu-abuan. Dengan sebelah mata tertutup lapisan katarak, ia duduk di selembar alas sambil menggendong bocah kecil di dadanya. "Oh, tidak!! Bagaimana mungkin?! Ini pasti kekeliruan!" Andri menatap kembali bocah terlantar yang kurus kering itu. Hatinya hancur... Ah, mimpi semalam benar-benar hanya bunga tidur. Andri kembali ke penginapannya dengan hati lesu. Kali ini bukan saja ia kecewa karena calon istrinya ternyata hanya seorang bocah gelandangan, tapi juga karena 'Pak Comblang' dari keluarga Surya tidak datang pada pertemuan yang ia janjikan.

Tanpa suatu penjelasan apapun. "Ah... sudah jatuh dari tangga, tertimpa genteng pula! Saya adalah seorang yang terpelajar... sudah selayaknya saya mendapatkan seorang gadis dari keluarga terhormat!" Semakin lama Andri memikirkan hal tersebut, semakin jijik ia membayangkan kemungkinan menikahi bocah kumal itu. Benar-benar menggelikan. Andri khawatir hal tersebut benar-benar akan terjadi. Dan ia tidak dapat tidur semalaman...

Keesokan harinya... Andri pergi ke pasar bersama dengan pelayan setianya. Andri menjanjikan imbalan yang sangat besar apabila ia berhasil membunuh bocah kumal itu. Andri dan pelayannya berdiri di belakang pembeli. Begitu kesempatan datang, pelayan Andri menikamkan pisaunya ke arah si anak, lalu mereka kabur. Bocah kecil itu menangis dan wanita buta yang menggendongnya berteriak-teriak : "Pembunuh! Pembunuh!" Kegemparan pun segera menyebar ke seluruh penjuru pasar...

Sementara itu, Andri dan pelayannya telah lenyap dari tempat kejadian. "Kau berhasil membunuh dia?" tanya Andri terengah-engah. "Tidak," jawab pelayannya. "Begitu saya menghunjamkan pisau ke arahnya, anak itu berbalik secara tiba-tiba. Saya rasa saya hanya melukai mukanya, dekat alisnya." Andri segera meninggalkan penginapan. Kejadian itu dengan segera terlupakan oleh masyarakat sekitar. Ia kemudian pergi ke arah Barat menuju ibukota. Karena kecewa dengan kegagalan pernikahannya, Andri memutuskan untuk berhenti memikirkan perkawinan.

Tiga tahun kemudian Andri dijodohkan dengan gadis yang mempunyai reputasi baik yang berasal dari keluarga Hartono. Sebuah keluarga yang cukup terkenal di masyarakat sekitar.. Anak gadisnya terpelajar dan sangat cantik. Semua orang memberi selamat pada Andri. Persiapan pernikahan tengah dilangsungkan, ketika suatu pagi Andri menerima berita yang menyakitkan. Calon istrinya melarikan diri dengan laki-laki yang dicintainya. Mereka berdua telah menikah di kota lain.

Selama dua tahun Andri berhenti memikirkan pernikahan. Saat itu ia berusia dua puluh delapan tahun. Ia berubah pikiran tentang mencari pasangan dari masyarakat yang sekelas dengannya; seorang gadis kota terpelajar. Maka Andri pergi ke pedesaan, mencari suasana baru. Di desa, Andri menghabiskan waktu dengan mempelajari buku-buku. Suatu hari ia membawa bukunya ke sungai di dekat ladang, agar lebih nyaman membacanya. Tanpa sengaja ia melihat gadis desa yang sedang memanen kentang. Andri jatuh hati padanya dan bersegera menemui orang tua gadis itu. Gayung bersambut, gadis itu menerima lamarannya. Maka Andri bergegas ke kota untuk membeli perhiasan dan baju sutera serta segala persiapan pernikahan.

Selama beberapa hari, Andri berkeliling mengunjungi saudara-saudaranya untuk mengabarkan berita gembira itu. Seminggu kemudian ia kembali ke desa. Tapi yang ditemuinya hanya kabar buruk tentang sakitnya sang calon. Andri bersedia menunggu sampai ia sembuh. Sampai setahun hampir berlalu, penyakit calon istrinya malah semakin parah. Gadis itu kehilangan seluruh rambutnya dan menjadi buta. Ia menolak menikahi Andri dan berpesan pada orang tuanya untuk meminta Andri melupakan dia. Ia mohon agar Andri mencari gadis lain yang layak untuk dijadikan istri.

Tahun demi tahun berlalu, sampai akhirnya Andri mendapatkan calon yang sempurna. Bukan saja ia cantik dan masih muda, tapi juga pencinta buku dan seni. Tak ada rintangan, khitbah pun segera dilangsungkan. Namun malang tak dapat ditolak... tiga hari sebelum pernikahan, gadis itu terjatuh dari tangga dan mati. Sepertinya nasib mengolok-olokkan Andri. Andri menjadi fatalis. Ia tidak lagi peduli pada wanita, ia hanya bekerja dan bekerja. Sekarang ia bekerja di kantor pemerintahan di Yogya. Mengabdikan diri pada tugas dan sama sekali berhenti memikirkan pernikahan. Tapi ia bekerja dengan sangat baik, sehingga atasannya, Hakim Sulaiman, terkesan pada dedikasi dan kesungguhannya... hingga mengusulkan Andri untuk menikahi keponakannya. Pembicaraan itu sangat menyakitkan Andri. "Mengapa Tuan mau menikahkan keponakan Tuan pada saya! Saya terlalu tua untuk menikah." Pejabat itu menasehati Andri tentang keburukan membujang. Lagipula menikah adalah sunnah Rasulullah. Maka Andri menyetujuinya, meskipun ia sama sekali tidak antusias...

Andri benar-benar tidak melihat istrinya sampai pernikahan benar-benar selesai dilangsungkan. Istrinya ternyata masih muda, Andri lega melihatnya. Tingkah lakunya sangat baik dan Andri harus mengakui bahwa ia adalah istri yang sangat baik. Taat, sholihat dan selalu menyenangkan. Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak menyukainya. Bila di rumah, istrinya selalu menata rambut dengan cara yang khas, sehingga menutupi pelipis kanannya. Menurut Andri, dengan tata rambut seperti itu istrinya kelihatan sangat cantik, tetapi ia agak heran juga...

Tak kurang dari satu bulan, Andri telah benar-benar jatuh cinta kepadanya. Suatu saat ia bertanya, "Mengapa dinda tidak mengganti gaya rambut sekali-kali? Maksudku, mengapa dinda selalu menyisirnya ke satu arah?" Istri Andri menyibakkan rambutnya dan berkata, "Lihatlah!" Ia menunjuk ke luka di pelipis kanannya. "Bagaimana bisa begitu?" tanya Andri lagi Sang istri menjawab, "Aku mendapatkannya saat berumur tujuh tahun. Ayahku meninggal di kantornya, sedangkan ibu dan abangku meninggal dunia pada tahun yang sama. Kemudian aku dirawat oleh ibu susuku. Kami mempunyai rumah di dekat Gerbang Selatan Yogya, dekat kantor ayahku. Suatu hari, seorang pencuri tanpa alasan apa pun, mencoba membunuhku. Kami sama sekali tidak mengerti, kami tidak pernah punya musuh. Untung ia tidak berhasil membuatku mati, tapi ia meninggalkan luka di kepala sebelah kananku.

Karena itulah aku selalu menutupinya darimu." "Apakah ibu susumu hampir buta?" "Ya. Kok tahu?" "Akulah pencuri itu. Ah, tapi bagaimana mungkin! Semua begitu aneh... Semua terjadi begitu saja, seperti ada yang telah mentakdirkan." Andri kemudian menceritakan semuanya. Bermula dari mimpinya setelah ia sholat istikhoroh, sekitar sepuluh tahun yang lalu. Istrinya juga bercerita, ketika ia berusia sembilan atau sepuluh tahun, pamannya menemukan ia di Sung-Cheng dan mengambilnya untuk tinggal bersama keluarganya di Shiang-Chow.

Akhirnya mereka menyadari bahwa pernikahan mereka adalah sebuah takdir yang telah digariskan Allah Ta'ala. Andri menangis. Ia malu pada Penciptanya. Malu pada kesombongannya untuk menentang takdir... ...dan pada saat itulah, Andri menyerahkan segala urusannya kepada Allah. Tapi kenapa ketika ia mendapatkan petunjuk, ia malah mengingkarinya ? Saat itu juga, Andri melakukan sholat taubat. Untuk menjadi mukmin yang baik. Begitulah, kasih sayang di antara mereka kian tumbuh subur...

Setahun kemudian lahirlah anak laki-laki. Istri Andri mendidiknya dengan sangat baik. Setelah dewasa, ia menjadi seorang yang terpelajar. Usahanya di bidang perdagangan maju pesat. Ia sangat penyantun dan terkenal akan kedermawanannya. Ketika sang anak menjadi Gubernur, Andri telah lanjut usia. Anak dan istrinya tetap setia memelihara dan mencintainya. Di tempat mereka pertama kali bertemu, empat belas tahun sebelum pernikahan, anak Andri membangun tempat peristirahatan untuknya.

"Dan segala sesuatu kami jadikan berjodoh-jodohan, agar sekalian kamu berpikir." (QS 51 : 49).

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir."


--------------------

KISAH PETER DAN TINA

Peter dan Tina sedang duduk bersama di taman kampus tanpa melakukan apapun, hanya memandang langit sementara sahabat-sahabat mereka sedang asik bercanda ria dengan kekasih mereka masing-masing.

Tina : "Duh bosen banget. Aku harap aku juga punya pacar yang bisa berbagi waktu denganku."
Peter : "kayaknya cuma tinggal kita berdua deh yang jomblo. cuma kita berdua saja yang tidak punya pasangan sekarang."
(keduanya mengeluh dan berdiam beberapa saat)
Tina : "Kayaknya aku ada ide bagus deh. kita adakan permainan yuk?"
Peter : "Eh? permainan apaan?"
Tina : "Eng... gampang sih permainannya. Kamu jadi pacarku dan aku jadi pacarmu tapi hanya untuk 100 hari saja. gimana menurutmu?"

Peter : "baiklah... lagian aku juga gada rencana apa-apa untuk beberapa bulan ke depan." Tina : "Kok kayaknya kamu gak terlalu niat ya... semangat dong! hari ini akan jadi hari pertama kita kencan. Mau jalan-jalan kemana nih?"
Peter : "Gimana kalo kita nonton saja? Kalo gak salah film The Troy lagi maen deh. katanya film itu bagus"
Tina : "OK dech.... Yuk kita pergi sekarang. tar pulang nonton kita ke karaoke ya... ajak aja adik kamu sama pacarnya biar seru."
Peter : "Boleh juga..."
(mereka pun pergi nonton, berkaraoke dan Peter mengantarkan Tina pulang malam harinya)
Hari ke 2:

Peter dan Tina menghabiskan waktu untuk ngobrol dan bercanda di kafe, suasana kafe yang remang-remang dan alunan musik yang syahdu membawa hati mereka pada situasi yang romantis. Sebelum pulang Peter membeli sebuah kalung perak berliontin bintang untuk Tina.

Hari ke 3:

Mereka pergi ke pusat perbelanjaan untuk mencari kado untuk seorang sahabat Peter.
Setelah lelah berkeliling pusat perbelanjaan, mereka memutuskan membeli sebuah miniatur mobil mini. Setelah itu mereka beristirahat duduk di foodcourt,
makan satu potong kue dan satu gelas jus berdua dan mulai berpegangan tangan untuk pertama kalinya.

Hari ke 7:

Bermain bowling dengan teman-teman Peter.
Tangan tina terasa sakit karena tidak pernah bermain bowling sebelumnya.
Peter memijit-mijit tangan Tina dengan lembut.

Hari ke 25:
Peter mengajak Tina makan malam di Ancol Bay.
Bulan sudah menampakan diri, langit yang cerah menghamparkan ribuan bintang dalam pelukannya.
Mereka duduk menunggu makanan, sambil menikmati suara desir angin berpadu dengan suara gelombang bergulung di pantai. Sekali lagi Tina memandang langit, dan melihat bintang jatuh.
Dia mengucapkan suatu permintaan dalam hatinya.

Hari ke 41:
Peter berulang tahun. Tina membuatkan kue ulang tahun untuk Peter.
Bukan kue buatannya yang pertama, tapi kasih sayang yang mulai timbul dalam hatinya membuat kue buatannya itu menjadi yang terbaik. Peter terharu
menerima kue itu, dan dia mengucapkan suatu harapan saat meniup lilin ulang tahunnya.

Hari ke 67:
Menghabiskan waktu di Dufan. Naik halilintar, makan es krim bersama,dan mengunjungi stand permainan. Peter menghadiahkan sebuah boneka teddy bear untuk Tina, dan Tina membelikan sebuah pulpen untuk Peter.

Hari ke 72:
Pergi Ke PRJ. Melihat meriahnya pameran lampion dari negeri China.
Tina penasaran untuk mengunjungi salah satu tenda peramal.
Sang peramal hanya mengatakan "Hargai waktumu bersamanya mulai sekarang"
kemudian peramal itu meneteskan air mata.

Hari ke 84:
Peter mengusulkan agar mereka refreshing ke pantai.
Pantai Anyer sangat sepi karena bukan waktunya liburan bagi orang lain.
Mereka melepaskan sandal dan berjalan sepanjang pantai sambil berpegangan tangan, merasakan lembutnya pasir dan dinginnya air laut menghempas kaki mereka.
Matahari terbenam, dan mereka berpelukan seakan tidak ingin berpisah lagi.


Hari ke 99:
Peter memutuskan agar mereka menjalani hari ini dengan santai dan sederhana.
Mereka berkeliling kota dan akhirnya duduk di sebuah taman kota.

15:20 pm
Tina : "Aku haus. Istirahat dulu yuk sebentar. "
Peter : "Tunggu disini, aku beli minuman dulu. Aku mau teh botol saja. Kamu mau minum apa?"
Tina : "Aku saja yang beli. kamu kan capek sudah menyetir keliling kota hari ini. Sebentar ya"
Peter mengangguk. kakinya memang pegal sekali karena dimana-mana Jakarta selalu macet.

15:30 pm
Peter sudah menunggu selama 10 menit and Tina belum kembali juga.
Tiba-tiba seseorang yang tak dikenal berlari menghampirinya dengan wajah panik.
Peter : "Ada apa pak?"
Orang asing : "Ada seorang perempuan ditabrak mobil. Kayaknya perempuan itu adalah temanmu"
Peter segera berlari bersama dengan orang asing itu.
Disana, di atas aspal yang panas terjemur terik matahari siang,tergeletak tubuh Tina bersimbah darah, masih memegang botol minumannya.
Peter segera melarikan mobilnya membawa Tina ke rumah sakit terdekat.
Peter duduk diluar ruang gawat darurat selama 8 jam 10 menit.
Seorang dokter keluar dengan wajah penuh penyesalan.

23:53 pm
Dokter : "Maaf, tapi kami sudah mencoba melakukan yang terbaik. Dia masih bernafas sekarang tapi Yang kuasa akan segera menjemput. Kami menemukan surat ini dalam kantung bajunya."
Dokter memberikan surat yang terkena percikan darah kepada Peter dan dia segera masuk ke dalam kamar rawat untuk melihat Tina. Wajahnya pucat tetapi
terlihat damai.

Peter duduk disamping pembaringan tina dan menggenggam tangan Tina dengan erat.
Untuk pertama kali dalam hidupnya Peter merasakan torehan luka yang sangat dalam di hatinya.
Butiran air mata mengalir dari kedua belah matanya.
Kemudian dia mulai membaca surat yang telah ditulis Tina untuknya.

Dear Peter...
ke 100 hari kita sudah hampir berakhir.
Aku menikmati hari-hari yang kulalui bersamamu.
Walaupun kadang-kadang kamu jutek dan tidak bisa ditebak, tapi semua hal ini telah membawa kebahagiaan dalam hidupku.
Aku sudah menyadari bahwa kau adalah pria yang berharga dalam hidupku.
Aku menyesal tidak pernah berusaha untuk mengenalmu lebih dalam lagi sebelumnya.
Sekarang aku tidak meminta apa-apa, hanya berharap kita bisa memperpanjang hari-hari kebersamaan kita. Sama seperti yang kuucapkan pada bintang jatuh malam itu di pantai,

Aku ingin kau menjadi cinta sejati dalam hidupku.
Aku ingin menjadi kekasihmu selamanya dan berharap kau juga bisa berada disisiku seumur hidupku. Peter, aku sangat sayang padamu.

23:58

Peter : "Tina, apakah kau tahu harapan apa yang kuucapkan dalam hati saat meniup lilin ulang tahunku?
Aku pun berdoa agar Tuhan mengijinkan kita bersama-sama selamanya.
Tina, kau tidak bisa meninggalkanku! hari yang kita lalui baru berjumlah 99 hari!
Kamu harus bangun dan kita akan melewati puluhan ribu hari bersama-sama! Aku juga sayang padamu, Tina. Jangan tinggalkan aku, jangan biarkan aku kesepian!
Tina, Aku sayang kamu...!"
Jam dinding berdentang 12 kali.... jantung Tina berhenti berdetak.
Hari itu adalah hari ke 100.

mir21.gif ( 2.06K ) Number of downloads: 10


Diary seorang cewe
Diary

Dear Diary,
Hai Di, udah lama Vella ngga nulisin kamu yah, banyak banget yang Vella mau ceritain ke kamu Di. Tadi pagi Vella sama temen-temen ngomongin cowok masing-masing. Di masih inget sama Evan kan? cowoknya Vella? Vella malu banget deh sama dia. Dia soalnya nggak kayak cowok-cowok temen Vella yang lain Di. Sebel deh sama Evan, bayangin deh Di semua minusnya Evan nih yah:


- Minus 10 karena dia nggak punya handphone, padahal cowok-cowok temen Vella yang lain punya handphone.
- Minus 10 karena dia nggak dibolehin nyetir mobil sama ortunya karena belum 17, padahal cowok-cowok temen Vella yang lain biar sama-sama SMP udah boleh bawa sendiri!
- Minus 10 karena dia itu rambutnya cuma cepak biasa, padahal cowok-cowok temen Vella yang lain itu rambutnya gaya abhies.
- Minus 10 buat dia karena dia itu nggak suka ketempat-tempat dugem Di, padahal Vella suka banget ke sana, malu banget nggak sih punya cowok kayak gitu.
- Minus 10 buat dia lagi Di, karena dia nggak punya satu pun jacket XSML, padahal cowok-cowok temen Vella yang lain sering banget belanja disana, kalau dia sih paling pake bajunya bangsa bangsa jacket yang merek FILA (idih banget nggak sich Di!).
- Minus 10 banget (dan yang ini banget banget-banget) karena dia masih suka bawa makanan dari rumah buat makang siang ke sekolah! Gila yah Di, malu-maluin banget nggak sih!
Sumpah yah Di, Vella malu banget sama dia, kayaknya mau putus aja deh Di.

Dear Diary,
Hari Ini valentine, pas Evan ke kelas Vella mau kasih kado, Vella cuma diem aja. Seharian itu Di, Vella ngindarin dia abis-abisan, dia bingung gitu kayaknya Di, kenapa Vella ngindar terus.

Sampe rumah dia nelepon Vella, Vella males tapi ngomong sama dia Di, Vella suruh pembantu bilang ke Evan kalau Vella belum pulang. Dia nelepon 4 kali hari itu tapi Vella males nerima.

Kira-kira 3 harian deh kayak gitu, tiap di sekolah Vella ngindarin Evan pake cara ke WC cewek lah atau ngumpet-ngumpet lah, dan di rumah Vella selalu nggak mau nerima telepon dari dia, kayaknya Vella bener-bener udah illfeel dan malu pacaran sama dia Di!

Akhirnya waktu itu hari Senin, seperti biasa pas di sekolah, Vella ngindarin dia. Pas pulang sekolah Vella ngumpul di kantin sama temen-temen Vella. Mereka pada nanya kok Vella ngindarin Evan terus Vella diem aja, tapi setelah didesak akhirnya Vella ngaku juga Vella ngomong, "Ah bete banget gue sama tuh cowok, udah nggak ada modal mendingan gaul, dan mukanya setelah gue pikir-pikir biasa banget, ya ampun kok gue dulu mau yah jadi sama dia? dipelet kali yah gue!!"

Tiba tiba semua pada diem dan ngeliat ke arah punggung Vella, Vella bingung dan nengok Di, ya Tuhan Di, ternyata ada Evan di belakang Vella dan kayaknya dia denger yang Vella baru ucapin barusan. Vella cuma bisa diem tapi Vella sempet ngeliat Evan sebentar. Dia diem, mukanya nunduk ke bawah terus dia pelan-pelan pergi dari situ.

Vella diem aja, ada beberapa yang ngomong "Hayo loo Vel, dia denger lho!!"

Tapi ada juga yang ngomong, "Udahlah Vel, baguslah denger, nggak ada untungnya tetep sama dia, ntar elo juga bisa dapet yang lebih bagus."

Bener juga yah Di, ya udah Vella cuek aja, syukur deh kalau dia denger. Dia mau minta putus juga ayo, mau banget malah Vella.

Dua hari pun berlalu Di, dan sejak saat Evan udah nggak berusaha nyamperin Vella di sekolah atau nelepon Vella. Tiap ketemu di sekolah dia cuma diem dan ngelewatin Vella aja.

Seminggu berlalu, 2 minggu berlalu sejak hari itu, Vella mulai ngerasa ada sesuatu yang ilang Di, nggak tau kenapa Vella mulai ngerasa kehilangan sesuatu, kadang-kadang Vella suka bengong bingung sendiri, cuma Vella berusaha ilangin perasaan itu. Vella nggak tau kenapa jadi males kemana mana, pengennya sendiri aja, males ngapain. Semua orang jadi bingung kenapa Vella berubah jadi kayak gini. Vella sendiri juga nggak tau kenapa Di.

Dear Diary,
Minggu malem nih Di, Ujan deres banget, Vella diem dan ngerenung di dalam kamar. Tiba-tiba di channel V ada lagunya Janet JaCkson Di! Tau kan liriknya?

Doesn't really matter what the eyes is seeing,
Cause im in love with the Inner being.

Saat itu tiba-tiba Vella nangis Di, Vella baru sadar... Betapa baiknya Evan... Vella nangis senangisnya Di, karena Vella baru sadar betapa begonya Vella...

- Minus 10 karena Evan nggak punya HP Di, tapi plus 100 karena dia tiap malem rela jalan jauh ke wartel buat Nelpon Vella ngucapin selamat tidur setiap hari...
- Minus 10 karena dia nggak dibolehin nyetir mobil sama ortunya karena belum 17 Di, tapi plus 100 karena tiap malem minggu dia rela naik sepeda jauh dari kemang ke bona indah khusus ngapelin Vella biar ujan sekalipun...
- Minus 10 karena dia rambutnya cuma botak biasa dan nggak suka di spike, tapi plus 100 karena dalam keadaan rambut Vella apapun baik bagus maupun lagi jelek, mau salah potong atau salah blow atau salah model dia selalu bilang Vella cantik banget...
- Minus 10 karena dia nggak suka ke tempat dugem Di, tapi plus 100 karena dia rela nemenin Vella ke tempat-tempat kayak gitu, meski dia nggak suka dan rela dimarahin ortunya karena pulang pagi nemenin Vella... dengan naik taksi ke rumahnya...
- Minus 10 karena Evan nggak punya jacket XSML dan hanya punya jacket FILA biasa, tapi plus 100 karena kalau ujan di sekolah dia selalu minjemin Vella jacketnya meski dia sendiri kedinginan...
Minus 10 karena dia bawa makan siang ke sekolah, tapi plus 100 karena ternyata nabung uang jajan makang siangnya buat beli kado valentine buat Vella...

Dari 60 minus yang Evan punya Di, dia punya 600 Plus di hati Vella... dari 1000 kekurangan Evan, dia punya semilyar kebaikan... Ya Tuhan Di, betapa begonya Vella yah... Vella yang berutung sebenernya punya cowok Evan, dan Vella juga yang nyakitin Evan, padahal nggak pernah sekalipun dia nyakitin Vella. Malemnya Vella nangis lama banget Di.

Dear Diary,
Vella ketemu sama Evan di sekolah. Vella kejar dia dan bilang Vella mau ngomong, Evan diem aja, tapi pulang sekolah dia nanya Vella mau ngomong apa. Vella kasih dia kartu buatan Vella, Vella cium pipi dia dan Vella bilang minta maaf karena Vella udah nyakitin dia. Dia cuma diem aja terus pulang... Vella cuma bisa diem karena sadar, Vella yang berbuat, Vella juga yang kehilangan... Sakit banget rasanya Di, Vella pulang sekolah nangis tapi juga sadar itu semua Vella yang bikin dan Vella pula yang nanggung resiko-nya...

Malem itu tiba tiba mama ngetok pintu kamar Vella, katanya ada telepon. Ternyata bener Di, itu Evan, dia udah maafin Vella, dia udah lupain semuanya... aduh Di, girang banget hati Vella, hi hi hi senengnya.

Nanti malem Evan mau kesini Di, dan Vella mau dandan secantik-cantiknya buat Evan, jadi Vella udahan dulu yah Di... thanx banget udah denger curhat-nya Vella, Vella belajar satu hal Di:

Hargailah apa yang kamu miliki sekarang,
Karena tanpa kamu sadari,
Kamu begitu beruntung telah memiliki-nya.

Selamat malem diaryku...

GRAFFITI

Sekelompok pasukan dengan mengenakan sweater dan masker sambil menenteng cat semprot di tangan mulai berjalan menelusuri jalan-jalan di tengah kota besar Indonesia. Beberapa saat mereka sempat berdiam diri di bawah fly over, dengan pandangan penuh arti menatap tembok-tembok yang kosong dan kusam tersebut. Sedetik kemudian tangan-tangan mereka mulai menyemprot tembok tersebut dengan cat semprot. Tidak ada yang tahu apa yang mereka ciptakan saat itu, sampai keesokan paginya para pengguna jalan mulai terheran-heran dengan karya para bomber tersebut. Dan karya inilah yang kita kenal sebagai “graffiti”.

Sabtu, 23 April 2011

Bele bele

Panas, gerah, dan sumpek.
Begitulah suasana kalo pulang sekolah naik angkot.
Kebetulan gue gak punya SIM. Mau bawa motor pun takut dihadang pak polisi.

Suara klakson para angkot pun bersahut-sahutan.
Ciri khas jalanan kota besar adalah kemacetan yg luar biasa membosankan.
Serta keserakahan para pengguna jalan.

Keringat gue bercucuran. Membasahi wajah gue yg imut ini. (huek -_-)
Gue mencoba menghilangkan suntuk dengan membaca novel dan mendengarkan music pake mp3 player pinjeman dari temen gue.
Gue duduk di depan. Di sebelah pak supir yg dari tadi komat-kamit gak jelas.

Gue memandangi jalanan yg penuh hiruk pikuk.
Mata gue tertuju pada sebuah gambar besar di pinggir jalan.
Bertuliskan :
VIERRA . 19 MARET 2011.
Tiba-tiba hape gue geter.
“woi, ntar loe ikutan nonton konser vierra gak?”. Sms dari si fahri.
“liat ntar lah. Gue agak males nonton konser band kayak si vierra itu.” Bales gue
“oke. Ntar kalo loe ikut kabarin gue ya”. Balesnya lagi.

Gue lanjut baca novelnya dan lagu yg gue putar sangat menggebu-gebu.
Hardrock-metalcore dengan scream dan tapping gitar sekaligus.
Gue emang demen banget sama BULLET FOR MY VALENTINE.
Band Metal yg membuat hati gue merinding.

Gue sampe di rumah sore hari.
Seperti biasa, capek, daki, ngantuk bercampur jadi satu.
Gue membaringkan diri di tempat tidur.

Hape gue geter lagi.
Ternyata sms dari billy.
“eh, loe ikutan nonton konser gak minggu depan ?”.
“kagak tau mas”. Jawab gue.
“ikutan aja, ntar gue bawa adek gue. hehehe”. Katanya.
“yaudah deh, tapi loe jangan bawa adek loe. Bahaya.” Kata gue.
“oke. Dia pergi sama kakak sepupu gue kok”. Balesnya.
Kebetulan gue juga di comblangin sama adeknya dia.

Gue pun berpikiran untuk ikut.
Ternyata sanan dan yg lain juga mau nonton konser itu.
“ntar gue pergi sama sepupu gue”. kata sanan.

Gue makin semangat buat ikutan. Soalnya yg ikut rame.
Gue pun menyusun rencana untuk mengajak temen-temen yg lain.
Tapi hanya beberapa saja yg mau ikutan.
Beberapa lagi batal ikut karena tidak ada waktu dan transportasi.

Hari itu pun tiba. Waktu itu malam minggu.
Gue mempersiapkan segalanya. Gue udah nyusun rencana buat ngumpul di lokasi.

“gimana bro ? udah bisa start gak nih ?”. gue sms fahri.
“ntar magrib loe ke rumah gue ya.” Balesnya.

Gak lama kemudian gue dapet sms dari billy.
“bro, gue gak bisa ikut. Emak gue gak ngasih”. Katanya.

Aduhhh… please deh
Hari gini gak bisa keluar rumah ?
Capek deh.
Sebenernya gue juga gak di kasih.
Tapi karna gue pergi sama si fahri, gue jadi di kasih keluar.
Gue emang sering nonton konser sama dia.
Mama gue emang udah kenal sama si fahri.

Selesai magrib, gue pun bersiap untuk berangkat menuju rumah fahri.
Harapan gue pupus karena temen-temen gue banyak yg batal ikutan.
Gue berpikir pasti bakalan nonton konser berdua lagi sama si fahri.
Seperti biasa.
Seperti pasangan homo. (hahahaha)

Gue lanjut berdandan.
Kemeja hitam tangan panjang bergaris-garis putih dan celana jeans biru menjadi pilihan gue.
Kaos kaki tanggung, topi jazz, dan sepatu all-star juga melengkapi penampilan gue yg aneh ini.
Tak lupa celak hitam yg sengaja gue tebalin.

TADAAAA !!!!!
Jadilah gue seperti ‘tukang lelang jengkol’.

Selera fashion gue emang gak elit banget. Huh !

Gue menunggangi motor butut gue yg bertuah itu.
Gue pake helm. Tapi gue gak bawa surat-surat berkendaraan.
Mama gue dari kejauhan melambaikan tangannya, melepas kepergian gue dan motor butut gue.
“awas kalo kamu pulang pagi lagi !” teriaknya.

Motor butut gue melaju pelan.
Perlahan-lahan meninggalkan rumah gue dan emak gue.

Gue berjalan santai.
Gue bukan tipe anak gaul yg suka kebut-kebutan dan ugal-ugalan di jalanan.
Gue sayang sama motor butut gue. dan juga sama nyawa gue.

Rencananya gue mau jemput si billy.
Tapi karna emaknya gak ngasih, gue berencana buat langsung ke rumah fahri buat titip motor butut gue.

Gue berjalan perlahan.
Berkali-kali si fahri sms gue. tapi gak gue bales.
Jalanan rame banget. Padahal hari sudah malam.

Gue sampai di simpang pasar dekat rumah fahri.
Dari kejauhan terlihat kendaraan yg bertumpuk-tumpuk seperti pakaian dalam yg sedang di jemur.
Semakin lama lampu jalanan semakin gelap.
Gue menyalakan lampu sorot.

Astaghfirullah !
Ternyata di simpang pasar itu macet total.
Listrik padam, dan lampu lalu lintas mati.
Semua pengguna jalan berhamburan tidak beraturan.
Semuanya saling berebut untuk mendahului.

Gue terjebak macet.
Gak ada yg bisa gue lakuin.
Gue berniat untuk berbalik arah, tapi malah di sosor dari belakang sama pengendara motor yg lain.
Gue celingukan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 19.45

“lama banget loe? Acara mulai jam 8 malem” sms fahri.

Gue melihat sekeliling.
Ternyata ada sela untuk berbalik arah.
Gue pun memutar dan segera tancap gas.

Tapi…

“woi begok !!! loe bawa motor yg bener donk!!!”. seorang cewe memaki gue.
Gue hampir saja menabrak seorang cewe cakep berpakaian seksi yg bawa motor dengan laju kencang.
“aduh mbak, itu motor atau babi sih!!! Lampunya kok gak nyala!!” balas gue memaki.
Dia tersenyum. Karna itu kesalahannya. Dia gak nyalain lampu sorotnya.
Untung aja cakep. Kalo gak udah gue sumpelin tuh mulutnya pake bulu ketek gue.

Gue meneruskan perjalanan.
Gue mengambil jalan kecil di sebelah masjid.
Gelap banget. Gue jadi merinding.
Gue melewati sungai yg gak ada pembatasnya.
Pikiran gue jadi aneh-aneh.
Gimana kalo tiba-tiba dari kegelapan muncul Aming, terus dia nyeret gue ke tepi sungai dan gue diperkosa?
Atau gimana kalo tiba-tiba di tengah jalan, gue ketemu wewe gombel terus gue di rampok dan motor butut gue dibawa lari?
Atau jangan-jangan mpok nori udah membuntuti gue dari belakang terus gue disandera di tengah jalan lalu dia minta tebusan dengan satu kali ciuman?

Gue membuang jauh-jauh pikiran aneh itu.
Gue membaca ayat kursi. Mulut gue komat kamit selama melewati sungai itu.
Dari jauh terlihat seberkas cahaya.
Gue lega. Akhirnya gue keluar dari jalan sempit itu.

Gue masuk ke gang kecil tempat fahri tinggal.
Rumahnya gelap. Sepi. Dan nyaris gak keliatan.
Sepertinya tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana.
Gelap banget.
Listrik padam. Untung aja otak gue gak padam.

Gue sampai di depan rumah fahri.
Terlihat dua orang sedang bercakap-cakap.
Gue pikir itu siluman yg menyamar jadi manusia dan telah menyandra si fahri.
Eh, tapi ternyata itu emak bapaknya.

“assalamualaikum”. Salam gue.
“eh, kamu. Masuk deh”. Kata emaknya.
“fahrinya lagi mandi”. Sambungnya.

Gue menunggu di luar.

Tiba-tiba kepala fahri nongol sedikit.
Dia nyengir dengan muka tengilnya.
“bentar ya”. Katanya.
“cepetan lu”. Jawab gue kesel.

Gue nungguin sambil ngupil-ngupil kecil.
Gelap-gelap gini enaknya emang ngupil. Haha.

Telpon masuk.
“halo??”. Sapa gue.
“bro, loe dimana? Ntar kita ketemuan disana aja ya kalo gue bisa ikut”.
Ternyata dari si billy.
“ok”. Jawab gue.

Si fahri selesai mandi.
Gue pun mulai bergegas untuk menuju lokasi konser.
Motor butut gue titipin di rumah fahri.
Kita pergi naik mobil masyarakat (angkot).

Kita jalan keluar gang yg gelap itu.
Di tengah jalan gue mendapat panggilan alam.

“bentar ya, gue mau pipis”. Desak gue.
“gilak. Loe mau pipis dimana?”. Kata fahri.
“di pohon gede itu”. Jawab gue.
“gue ikutan lah”. balesnya.

Gue melihat sekeliling.
Memastikan kalo di sekitar situ gak ada aming.
Kalo ada aming, bisa gawat semuanya.
Gue melihat ke pohon besar itu.
Nyali gue ciut.
Akhirnya gue pipis di tembok belakang rumah orang.
Gue emang udah kebelet banget.
Mumpung listrik padam, gue aman-aman aja pipis di situ.
Yg jelas ‘GAKA ADA ALAT CEBOK’. Hahaha.
(Maaf ya bagian ini agak jorok. Maklumlah. Anak muda. Hahaha)

Kita lanjut jalan.
Di simpang jalan macet banget.
Kita gak bisa nunggu angkot di situ.
Akhirnya kita nungguin angkot di depan sebuah sekolah di daerah situ.

Malaikat Tak Bersayap

Hidup di sebuah perkampungan nelayan adalah hal yang sangat menyenangkan. Bermain di dekat pantai dan merasakan sejuknya hembusan angin. Apalagi jika kita selalu bersama dengan seorang teman yang selalu ada di samping kita, di saat kita bahagia maupun di saat kita merasakan pahitnya kehidupan. Namaku Tian, aku berumur 13 tahun. Saat berumur tiga tahun, aku mengalami sebuah kecelakaan yang mengakibatkan kedua mataku tidak bisa melihat lagi. Kata dokter aku bisa sembuh jika ada seseorang yang mau mendonorkan kedua matanya untukku. Aku tidak terlalu berharap, karena aku tau tidak semudah itu menemukan seseorang yang mau mendonorkan kedua matanya. Kami adalah keluarga yang sederhana, namun aku tetap merasa bersyukur atas semua yang telah Tuhan berikan kepadaku, karena aku dikelilingi orang-orang yang menyayangiku.
Masa laluku cukup menyedihkan. Ketika aku berumur 7 tahun, rumah kami terbakar, ayahkupun meninggal dunia karena menyelamatkan aku dari kebakaran. Yang tersisa hanyalah aku, adikku, dan ibuku. Setelah beberapa lama, kami kembali bangkit dari kesedihan. Kamipun memulai sebuah kehidupan yang baru. Kehangatan sebuah keluarga telah kami dapatkan kembali, walaupun tanpa hadirnya sesosok ayah di samping kami. Setiap sore aku selalu bermain di dekat pantai dengan sahabatku Dewi. Dia yang selalu menuntunku kemanapun aku pergi. Tangan ini rasanya terbiasa dengan sentuhan sayang seorang sahabat. “Dewi, kamu dimana? Kita pulang yuk, aku kan harus bantuin ibuku di rumah!” Panggilku. “Iya, iya!! aku dibelakangmu, jangan khawatir!”jawab Dewi dengan nada meledek. “Aku kira kamu ninggalin aku! aku takut!” kataku dengan lega. “Mana mungkin aku ninggalin kamu? Sahabatku dari kecil yang selalu ngerepotin aku ini sudah aku anggap saudara”jawab Dewi dengan candaan. “Dasar! Tapi janji ya kamu nggak akan ninggalin aku?” Tanyaku. “Nggak akan pernah aku ninggalin kamu! Ayo kita pulang!”jawabnya meyakinkan. Setelah mengantarkan aku pulang, Dewi segera pulang kerumahnya.
Karena hari Minggu, aku dan Dewi berjalan-jalan di sekitar rumah. Setelah lelah, kami berdua istirahat. “Tian, aku pingin banget kamu bisa melihat lagi. Kapan ya itu terjadi? Aku selalu berdo’a buat kamu!”harap Dewi kepadaku. “Suatu saat!! Karena aku yakin Tuhan akan memberiku yang terbaik!! Makasih ya do’anya! Kamu berarti banget buat aku!”jawabku meyakinkannya. Setelah puas berjalan-jalan, aku dan Dewi pulang. Sebelum Dewi pulang, dia mengatakan sesuatu kepadaku. “Nanti jika kamu bisa melihat dunia kembali, tolong jangan lupakan aku sebagai sahabatmu, ya!! Karena aku akan sedih jika itu terjadi!!”kata Dewi dengan nada sedih. “Nggak mungkin dan nggak akan pernah mungkin bagi aku buat ngelupain kamu, sahabat yang selalu setia menemani aku dalam suka dan duka. Aku janji!!” jawabku meyakinkannya. “kamu harus memberiku bunga jika kamu bias melihat nantinya!” jawab Dewi. “Bunga?? Iya, deh, aku janji!!”jawabku. Setelah Dewi mendengar jawabanku, dia berterima kasih dan segera pulang, meninggalkanku dengan pertanyaan-pertanyaan yang melayang di kepalaku. Entah apa yang dia pikirkan?
Sudah tiga hari aku tidak menemukan di mana Dewi berada. Di sekolahpun dia tidak ada, saat itu juga aku merasa sangat kehilangan, entah apa yang terjadi? Hari ini aku memutuskan untuk pergi menjenguk Dewi di rumahnya dengan ditemani adikku. Saat aku dan adikku membuka pintu, terdengar suara seorang laki-laki menyebut namaku. “Tian?? Kamu Tian, kan?? Saya ayah dari Dewi” kata lelaki itu. “Oh, om ayah Dewi?? Saya baru saja ingin menjunguk Dewi, kata teman-temannya, Dewi sudah tiga hari tidak masuk, katanya sakit. Apa benar, om?” tanyaku khawatir. “Benar, tapi sekarang dia sudah sembuh. Dia bilang kamu butuh donor mata untuk mata kamu, ya? Om sudah Tanya ke pihak rumah sakit, katanya ada sepasang mata yang didonorkan. Om dating kesini ingin menawarkan kamu untuk operasi mata, seluruh biayanya akan om tanggung karena kamu adalah sahabat dari anak om. Apa kamu mau? Ini permintaan dari Dewi, lho!!”kata ayah Dewi. “Saya mau om, saya mau!”jawabku senang.
Setelah melalui tahap operasi, akhirnya aku bisa melihat juga. Aku sudah tidak tahan lagi ingin segera memberi tahu Dewi bahwa aku sudah bias melihat lagi, aku kangen padanya. Saat aku bertanya kepada ayah Dewi, dia malah memberikanku sepucuk surat. Betapa kagetnya aku setelah membaca surat itu.Surat itu, dari Dewi.

From : Dewi
To : Tian
Tian... Maaf, mungkin saat kamu membaca surat ini, aku sudah tidak ada di samping kamu lagi. Maafin aku, ada satu hal yang selama ini belum kamu tau dari aku, karena aku terlalu takut untuk kehilangan kamu. Selama ini aku terkena penyakit kanker rahim, itu sebabnya aku sering mengeluh kesakitan. Aku tau umurku sudah tidak lama lagi, aku meminta ayahku untuk mendonorkan kedua mataku untuk kamu, karena aku tau dengan kedua mata itu hidupmu akan jauh lebih bahagia, walau tanpa aku di sisimu. Setelah kamu baca surat ini, mungkin aku telah tiada. Aku hanya meminta satu permohonan dari kamu, tolong jaga kedua mata itu, karena hanya itu yang bias aku berikan kepada kamu, sahabat sejatiku.Terima kasih atas semua yang telah kamu berikan untukku.

Salam manis
Sahabatmu,
Dewi

Kesedihanku yang tak terbendung lagi, itu adalah kedua kalinya aku kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidupku. Setelah aku tahu dia pergi meninggalkanku, aku sadar akan apa yang telah dia katakan tempo hari, jika aku bisa melihat aku harus memberinya bunga. Aku tahu apa yang dia maksudkan, aku segera pergi untuk membeli bunga dan meletakkannya di atas batu Nisan bertuliskan Dewi, nama sahabatku. Kini aku tahu betapa besar pengorbanannya untuk diriku, betapa besar kasih sayangnya sebagai seorang sahabat sejati. Dan tak akan pernah ada satupun orang yang bisa mengantikanya di hatiku. Kini aku tahu apa itu sahabat sejati, yang selalu ada untukku. Dia adalah anugrah terindah yang diciptakan Tuhan bagiku. Kini aku percaya bahwa malaikat memang benar-banar ada, walau tak semua malaikat bersayap. Karena sahabat adalah MALAIKAT TAK BERSAYAP, dan Dewi adalah adalah Malaikat Tak Bersayap ku.

कामू दान केनंगन सद Dulu

Nama gue Jesi,gw sekarang mahasiswi di salah satu Universitas di Jakarta. Pulang sekolah gue dapat undangan reunian SD gw,gw baca dan waktunya tinggal 2hari lagi, tiba-tiba gw teringat sama almbum foto jaman gue perpisahan SD dulu, belum ganti baju,gw obrak-abrik bufet dikamar gue mencari dimana kira-kira gue taro almbum poto gw itu, dan akhirnya ketemu juga,masih bagus banget,soalnya gue paling telaten kalau nyimpen barang kenangan. Gue buka dari halaman awal,mulai dari poto temen gw,seinget gue namannya Cakra,dia ketua kelas gw di SD yang paling ganteng (waktu jaman SD tentunya)hehehe.. Dan gw buka lagi semuanya kebelakang,dari poto guru-guru gw,temen-temen cewek gue,yang seinget gue nm mereka itu Tari, Alin, Indri, Dea, dan laian-lain. semuanya masih kesimpen di memori otak gue. Tapi, tiba-tiba gue teringat sama seseorang saat gue melihat poto di halaman selanjutnya,dan itu membawa gw inget ke masa SD dulu,sewktu kelas 4 SD.SD kelas 3,1999,Jakarta.Namanya Adit, badannya itu item, bandel, dan suka di marahi guru karena dia adlah biang ribut dikelas, dan tentunya sering mondar-mandir ruang guru karena beratem sama teman sekelas atau senior yang diatas kita." Apa lo,maju sini lo,ribut aja ama gue,kalah main aja marah lo ya?cemen lo!" umpat sebuah suara dari luar kelas. " Elo tuh yang curang,kalau gak mau kalah jangan curang dong!" akhrinya dimulai pertengkaran diantara mereka, didepan kelas tiba-tiba menjadi ricuh. Dan anak-anak yang sedang bermain saat istirahat itu berlari mendekat melihat apa yang terjadi di depan kelas 4.Benar sekali, ternyata si biang ribut Adit, sedang bertengkar dengan Eron, teman sekelas ku juga. Parahnya kerah baju Eron sudah berada digenggaman Adit,wajah Eron tampak takut, tapi tetap berudha berontak dari posisi yang tidak menguntungkan." Lo tadi bilang gw curang?elo yang nggak bisa main,jangan belagu lo yah?" tantang Adit teriak di depan muka Eron. " Apa lo?" tantang Eron balik,yang jelas-jelas ia kalah bexar ddengan badan Adit. Teman-teman lelaki yang lain berusaha menolong dan melerai,tetapi tetap saja,memang Adit tidak bisa di cegah. Dan tidak ada dari mereka yang menonton berusaha melaporkan ke pada guru,bahkan ketua kelasku,Cakra.Dan akhirnya tetap menjadi tontonan murid-murid pertengkaran mereka. Akhirnya Adit yang memang badan dan kekuatannya paling besar dialah yang menang dalam pertengkaran itu. Entah bagaimana,badan Eron didorong dan tiba-tiba maasuk kedalam tong sampah yang terbuat dari besi,yang tingginya hanya sepinggang anak-anak saat itu. " aaaaaa...." Teriak Eron yang kesakitan. " Rasain lo!" Umpat Adit. entah apa yang menggerakan gw saat itu tiba-tiba gw menghadang didepan Eron dan Adit." Ngapain lo Jes?" tanya Adit meamndang tidak suka kearah gw saat itu. Gw cuma diem aja.nggak tahu apa yang mau gw omongin untuk cegah Adit berhenti berbuat kasar." Udah berhenti..." kata gw. Adit menatap gue dengan heran." Minggir. Ini urusan anak cowok,anak cewek nggak usah ikut campur!" kata Adit mendorong aku kesamping. tapi aku kemudian balik lagi kehadapannya,gw tatap mata dia dengan marah. Kesal rsanya melihat perlakuannya yang selalu sok jagoan dan iseng kepadda yang lain." Gue bilang minggir,budek lo ya?mo gw pukul juga?" bentak Adit. " PUKUL GW KALAU LO BERANI! kurang puas yah udah bikin Erron kayak gini,kenapa sih lo selalu nakal sama yang lain?emang mereka salah apa?jangan jadi sok jagoan dong!" bentak gw kesal dan melotot kearahnya. Adit menatap gw emosi saat itu,gw tahu mungkin aja gw bisa dipukul saat itu juga olehnya atau sama seperti Eron nasib gw.Tapi dengan mengejutkan, Adit pergi dari hadapan gue. dan pergi kearah luar gerbang sekolah. Yang lainnya cepat menolong Eron keluar dari tong sampah. Dan gue, masih deg-degan karena sikap nekat gue saat itu, yang lain tidk heran kenapa gue begitu, karena gw dinilai paling tomboy dan berani diantara anak perempuan di kelas saat itu.Keesokannya, kami dikejutkan pula, ini bkan masalah si Adit mancari onar lagi di kelas atau di sekolah. tapi iya berdiri didepan kelas didampingi wali kelas kami Bu.Margiarti" Anak-anak sekalian,Ibu ingin memberitahukan pada kalian hari ini,teman kita Aditya Pramuja akan pindah sekolah, Adit akan tinggal di Surbaya dan sekolah disana. Jadi hari ini, hari terakhir dia bersekolah dan belajar bersama-sama dengan kita. Ibu harap kalain bisa mempergunakan sisa waktu dengan sebaik-baiknya untuk memberikan kenangan sama Adit. Paham anak-anak?" Kata Bu Guru tersenyum dan memegang pundak Adit. " Mengerti Bu..." semua menjawab serempak, tapi tersirat rasa tidak rela disana. Adit yang biasanya tersenyum usil, kali ini hanya diam sembunyi dari kesedihannya dan tidak ingin menangis." MBAK...MBAK..MBAAAKKKK!!!!" lamunan gw buyar,adek gue Siska diri didepan gw sambil megangin kue ditangannya." Apa sih dek?" jawab gw kesal." Ih ngelamun aja deyh,kesambet lo mbak!"ledek adek gw " Ada tamu tuh dibawah,nyari mbak..." katanya lagi." Siapa?" tanya gw heran, siapa yang bertamu sore-sore gini?" Hmm..nggak tahu ya?anak cowok gitu,cakep dyh.item manis,namanya....Adit kalau nggak salah,tuh, lagi ngobrol sama mama di bawah,sana cepetan..." kata adek gw keluar kamar?Adit??nah lo...masa iya sih adit yang gw bayangin barusan?nyambung amaat??gue buru-buru turun kebawah dengan penasaran." Iyh,kamu lama banget dyh,tuh dia nungguin kamu di teras,di suruh masuk nggak mau..." kata mama sambil masuk kedapur.Gw berjalan kedepan teras dengan penasaran,Adit yang mana sih?masa iyah?" Hmm..sorry,lo cari gue?" tanya gw sama cowok yang duduknya belakangin gw." Eh, halo, lo Jesi kan?" katanya tersenyum. Gw ngangguk bingung,mukanya nggak asing banget di memori otak gue." Masih inget gue nggak?gw Adit temen SD lo dulu,apa kabar, Jes?" tanyanya. Gue mangap tak percaya,bengong tiba-tiba."Kaget ya?masa lupa dyh?apa karena gw lebih gantengan yah sekarang?gw tinggal di Jakarta lagi sekarang,dan kebetulan beda 2 Blok dari sini." katanya tersenyum." Loo...beneran Adit?kok...bersih?dan...bisa senyum?" kata gue heran. Adit terkekeh usil," Kaget ya?gw sengaja berubah,bair reuni besok bisa kasih liat ke yang lain,kalau gw bukan lagi Adit si trouble maker yang dulu lagi." Katanya tersenyum bangga. Gw berpikir sejenak,dan kemudian ikut tertawa lucu.karena Adit yang gw liat saat ini, bersih, rapih, dan pastinya Bisa tersenyum nggak sangar kayak dulu lagi. Yang pasti dia akan jadi tetangga gw yang baru dan agaknya akan menyenangkan. Benar-benar bakal panjang Umur Adit ini." Yang paasti,gw dateng pengen liat,Jesi si tomboy masih tetep tomboy atau udah cantik dan layak di jadiin pacar gue?" katanya usil saat kita masuk keruang tamu. Gw mangap terkejut,dan memukul lengannya kesal. Yahhh..mungkin kalau Adit suatu saat benar-benar bisa menjadi cowok yang gw harapin,gw bakal pertimbangin hal itu. Nggak ada yang nggak mungkinkan?

Andromeda

Andromedaku, bersinarlah terang di langit malamkuBerikan kilapan cahaya di gelap harikuIndahkan khayalku, warnai mimpikuDan aku akan tetap menungguHingga tiba akhir dari waktu
♥♥♥
Jl. Ir. H. Juanda, Mei 2006
Langit tampak tak begitu terang hari ini. Sinar matahari yang biasanya terik tertutup awan yang beriak di langit. Udara hari ini tidak terlalu panas seperti biasanya, membuatku bisa menikmati embun sisa hujan semalam. Kusebrangi zebra cross di depan sekolahku, SMP Negeri I Bogor.
Jarum jam di pergelangan tanganku menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas menit. Masih ada selang waktu lima menit menuju kegiatan tadarus yang setiap hari diselenggarakan di sekolahku.
“Aww…” teriakkku ketika menabrak seseorang. Kertas laporan pelajaran PKn yang belum sempat kujilid jatuh berserakan diatas genangan air di depan gerbang sekolahku. Aku melihat kertas-kertas tersebut tercengang seakan tak percaya.
“Sorry, gwe nggak sengaja.” Ia meminta maaf sambil membantuku mengambil kertas-kertas yang berserakan dan sebagian basah. Aku tak menjawab sepatah katapun.
♥♥♥

Agustus 2006
Ternyata namanya Andromeda Alshiraiz. Ia lulusan SMP Negeri I Bogor tahun ini dan sekarang ia melanjutkan sekolahnya di SMA Negeri I Bogor yang berlokasi tepat disebelah SMP Negeri I Bogor.
Sejak beberapa bulan lalu aku sering bertemu dengannya. Semakin sering aku bertemu dengannya, semakin membekas senyum manisnya di ingatanku. Entah mengapa, senyum itu seringkali mengganggu pikiranku beberapa bulan terakhir.
Hujan turun sangat lebat sore ini, memaksaku menunggu di warung tenda Selot. Sudah setengah jam aku menunggu disini dan hujan belum juga reda, padahal sepuluh menit lagi aku harus les gitar.
Akhirnya aku memutuskan untuk berlari dan naik angkutan umum.Tiba-tiba aku menangkap sosok itu. Tinggi, berkulit sawo matang, dan memakai kacamata frameless. Sosok itu berlari sambil menutupi kepalanya dengan tas. “Cepetan dong, Tra!” teriak sosok itu pada temannya yang juga berlari disampingnya. Sosok itu tersenyum. Senyumnya begitu manis, dan senyumnya merupakan senyum yang akhir-akhir ini membayangi pikiranku.
Sial! Senyum itu membuatku tersihir hingga aku sendiri tak menyadari keadaanku basah kuyup karena hujan.
♥♥♥
September 2007
Allah memang mempunyai rencana yang tak pernah bisa diketahui sebelumnya oleh manusia manapun. Aku berhasil masuk SMA Negeri I Bogor. Dan tiba-tiba aku ditempatkan di divisi astronomi KIR, juga dia sang pemilik senyum itu.
Senyum itu membuatku memandangi pemiliknya yang kini berhadapan denganku. Sejak tadi mataku terus menatap lurus kedepan, tak berkedip sedikitpun.
Sosok yang dari tadi kupandangi sepertinya sadar kuperhatikan sejak tadi, ia alihkan pandangannya dari tugas yang teh Sarah berikan pada kami di pertemuan KIR divisi astronomi kali ini. Ia melihat kearahku kemudian tersenyum. Subhanallah, ia memberikan senyum itu padaku. Aku sungguh tidak percaya.
“Udah selesai tugasnya, Nis?” suara teh Sarah sang koor divisi astronomi mengagetkan aku, membuyarkan pikiranku tentang Raiz. Mata teh Sarah melihat sosok yang semula sempat kuperhatikan, sepertinya ia tahu dari tadi aku memperhatikan Raiz.
“Eh… umm… belum, Teh, ini lagi Danish coba kerjain,” jawabku terbata-bata.
♥♥♥
SMA Negeri I Bogor, Desember 2008
Hari ini divisi astronomi mengadakan acara Orbit atau obeservasi benda langit yang diselenggarakan di aula lantai 4 SMA Negeri I Bogor. Pak Basuki dan Adri telah membuka kegiatan ini tadi.
Sekarang kami boleh bebas mengamati benda langit dengan teropong yang telah disediakan.
“Assalamualaikum,” sapa seseorang.“Waalaikumsalam,” jawabku. Ketika aku membalik badanku, aku seakan tak percaya.“Kok nggak ikutan?” tanyanya.“Udah tadi,” jawabku. Tak bisa kupungkiri jantungku berdegup kencang.“Liat apa aja?”“Liat bulan,” jawabku sambil memandang langit luas, “Sayang ya, nggak bisa liat gugusan Andromeda.” “Loe suka Andromeda juga?” Raiz tertawa renyah lalu kembali menatap langit pukul dua malam hari ini, “Gwe juga suka, banget malah. Orang tua gwe bilang Andromeda gugusan yang jauh banget dari bumi, tapi Andromeda itu indah banget. Makanya gwe dikasih nama Andromeda. Kalo loe kenapa suka Andromeda?”‘Karena buatku kamulah Andromedaku.’. Ingin rasanya aku berkata begitu tapi aku tak mempunyai keberanian. Ya, buatku dia adalah Andromedaku yang memiliki sinar sangat terang dan beragam dan letaknya susah sekali dijangkau, namun ia tetap ada menghiasi langit ciptaan Allah. “Karena Andromeda itu unik,” jawabku singkat.
“Iz, bantuin gwe buat masang LCD, dong!” teriak Adri sang ketua KIR. Raiz pamit padaku, tersenyum, dan meninggalkan aku. Obrolan kami begitu singkat namun sanggup meninggalkan kesan di hatiku.Seandainya senyum itu kelak menjadi milikku, mungkin itulah hal terindah yang ada dihidupku selain memiliki iman Islam dan keluarga yang begitu menyayangiku.
♥♥♥

Agustus 2009
Obrolan saat orbit setahun lalu adalah pertama kalinya aku berbincang-bincang dengannya dan mungkin akan jadi yang terakhir.Hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah sejak Raiz lulus dari SMA Negeri I Bogor. Aku sudah kelas tiga SMA hari ini. Tak sedikitpun aku tahu kabarnya. Ingin rasanya aku sekedar tahu dimana ia melanjutkan kuliahnya dan dimana ia berada sekarang.
Mungkin rasa ini harus kusimpan dalam-dalam lalu kutaruh disudut hatiku. Di sudut yang tak seorangpun bisa menjangkaunya. Akan selalu kusimpan dan tak akan pernah kubuang. Sampai nanti aku akan selalu ingat bahwa aku pernah mengagumi seorang Andromeda Alshiraiz yang merupakan Andromeda bagiku. Seseorang yang terus bersinar di langit malamku tanpa harus terlihat, tapi aku tahu ia begitu nyata dan bersinar terang.
Dalam diam dan bibir bergetar aku hanya bisa berdoa, Ya Allah, aku tahu Engkau adalah sang Sutradara yang Maha Dashyat dalam hidupku. Semua alur hidupku kuserahkan pada-Mu. Jika ia bukan untukku, izinkan aku menyimpan senyumnya di sudut hatiku dan biarkan rasa kagumku untuknya kusimpan rapat-rapat. Jika memang ia Kau takdirkan untukku, aku percaya suatu saat nanti Kau akan mempertemukan aku dengannya di dalam ruang dan waktu yang Kau rencanakan. Karena aku percaya, Engkau akan membuat segala sesuatu indah pada waktunya.
♥♥♥
Frankfrut, Maret 2017
Langit malam Frankfrut lagi-lagi membuatku takjub akan Allah yang Maha Kreatif. Ditambah lagi indahnya sungai yang diterpa cahaya lampu-lampu kota Frankfrut, yang berada dibawah jembatan tempatku menginjakkan kaki saat ini. “Subhanallah,” aku melafalkan pujian untuk Allah berulang-ulang. Sungguh kuasa Allah tak ada duanya.
Kupandangi kertas undangan berwarna emas yang sejak tadi kupegang. Aku membaca kalimat itu berulang-ulang. Di kertas itu tertulis ‘Andromeda Alshiraiz dan Aisya Danish Amdawijaya’.Allah memang sang Sutradara yang Maha Dashyat bagi hidupku. Besok aku akan menikah dengannya di Schwetzingen Mosque. Hal yang tak pernah kuduga sebelumnya.
Aku akan menikah dengan Andromeda-ku di tempat yang tak pernah kubayangkan sebelumnya, Jerman. Ya, mau tidak mau aku harus menikah disini karena Raiz harus mengambil program spesialis dokter di Hamburg University of Applied Science mulai bulan depan. Begitu juga aku, sebentar lagi gelar dokter akan ‘menempel’ di depan namaku. Gelar yang akan kuterima karena aku telah selesai kuliah kedokteran di Hamburg University.
Kupandangi lekat-lekat langit malam ini. Akhirnya senyum yang selalu menghiasi ingatanku sejak saat itu akan menjadi milikku. Senyum miliknya, sang Andromeda-ku.Ternyata Allah memang akan membuat segala sesuatu indah pada waktunya.
♥♥♥

Kamis, 21 April 2011

Bersuka Ria











Terselip Jaket

Grusak…       Grusuk…grusak..grusuk…       GUBRAK!!!“sya…kamu lagi apa sih bukane cepet-cepet sana berangkat malah lagi sibuk ngapain sih??Ah mamah bukane bantuin nyariin kuncinya malah ngomel-ngomel gitu pinguin kutub juga tau kalo matahari dah menyinari dunia berarti dah siang…huuuh…lagian  ne kunci ngumpet dimana lagi,bukane cepetan nongol malah gga keluar-keluar dari tadi dicariin gga ketemu.kemana yya??duhh…gini nih resiko jadi orang pelupa.tapi siapa juga yang mau jadi orang pelupaan…“syaaaaa…………………!!!“iya..ya mah bentar lagi keluar.”Tau ah bodo amat.dah bosen kali tu kunci gga mau ma gue.tapi ntar gimana mau bisa masuknya…ahhh….“kamu ngapain sih didalam kamar lama banget gitu.gga kayak biasanya.dandan yah…dah insyaf kamu dadan sekarang.mau tampil beda pha didepan radit??”Duh mamah pake becandaan lagi”mah,syasi gga bakal dandan klo syasi belum pengin.lagian radit juga nerima syasi apa adanya tuh.ga usah dandan.anak mamah ne kan dah cantik dari lahir. Oia mah kunci yang dipegang syasi ko gga ada.mamah liat ga??“yya mana mamah tau.kan kamu yang megang.udah sana cepetan berangkat kasian radit dah nungguin dari tadi.”“dah mah,assalamualaikum…’“waalaikumsallam…..”Hmmm…..bakal nunggu lama gara-gara gue gga bawa kunci sih.mana mamah ma papah kalo pulang kerja sore lagi.grrrrrrrrrrr“pagi sayang..”“hmm..napa mukane ditekuk gitu?”“gga papa.berangkat yuk…”  Duh..gara-gara tu kunci gue jadi gga konsen gini.gga tau napa tu kunci dah melekat banget ma gue.bukannya zaman sekarang tuh kebanyakan kalo gga tenang gara-gara Hpnya ilang or gga dibawa gitu.secara prinsip mereka sekarang kebanyak  “HP is my life…” haha dasar zaman sekarang gapang jha dibodohin ma alat-alat canggih cara manfaatinya yang pada berlebihan.tapi ne gue beda yang ada gga bawa kunci rumah tapi hebohnya jha dah kayak gini tapi kalo gga bawa Hp malah biasa-biasa jha.walaupun kadang-kadang dimarahin ma radit karna gga bisa dihubungin.kwkwkwkwkMika mengibas-ibaskan tangannya didepan muka syasi.”heh…lo napa sya…lo sakit.sakit apa??pusing,mumet,panas,dingin apa ambeien??”Mana yya kuncinya ko gue lupa naro sih.tapi seinget gue pas pulang les kan gue buka tu pintu rumah terus karna kecapean minta papah buat ngambilin.berarti terakhir ma papah donk.duh…napa tadi gga nanya…dasar on─── tiba-tiba nay merasa dicubit mampe keras banget.“auww….apa-apaan sih lo mi??” ihh…ne anak kebiasaan bukan cumin mulutnya jha yang aktif ngomong tapi tangannya juga jail banget buktinya gue gga salah apa-apaan malah kena cubitnya tu anak.“lo tuh yang apa-apaan.ditanyain diem jha.gue di cuekin ma lo tau.dari tadi dipanggil juga gga denger.dah mulai budeg yya lo..”“yye sembarangan,lagian da pa sih……”“tuh disuruh maju no 4…Hah??tu guru matanya tajem banget sih tau aja muridnya ada yang ge bengong.Apaan lagi nih…mana tadi gga dengerin…Tet…………tet……………tet………….Alhamdulillah akhirnya bel juga.awas jha tuh mima tadi bukane ngingetin malah byasa-byasa jha.uhh…“sya kantin yuk…”“gga ah tadi pagi gue sarapan.oia mik lo liyat kunci rumah gue gga??”“kan lo yang megang masa Tanya gue..”“ya…barangkali lo liat.kan lo tau ndiri gue plupaan,”“makane jadi orang jangan pelupa…”Huek…………………tu anak kalo ngomong ngenekin banget sih kayak sendirinya gga pelupa ajha.tw ah tinggal doa jha moga-moga tu kunci ketemu kalo gga bakalan susah gga bisa masuk rumah bebas lagi. Pah….ko gga nyambung-nyambung sih.mana lagi panas gini juga.bener kan orang rumah belum pada pulang“yya sayang..”“pah,sya dah pulang nih tapi kunci sya lagi ngambek gga mau ma sya.pa pulang yya sya gga bisa masuk nih.kita kan gga da kunci cadangan lagi…”“yya bentar ne mamah ma papah ge dijalan…”“thanks pha..”Klik Akhirnya nyampe juga.tadi telfon katanya lagi dijalan tapi nyampenya lama banget sekitar satu jam baru nyampe.padahal nunggu kan gga ngenakin..Gue dah Tanya ma papah tapi kata papah tu kunci gga tau dimana.kata mamah juha papah sama jha plupaan kayak gue.pantesan jha.orang gue nular dari sifat papah…“kamu cari sya dikamar kamu apa di tas-tas kamu coba.jadi papah sama mamah kalo pulang gga cepet-cepet kayak tadi.lagian kamunya juga sih ngasih ke papah.papah kan naronya disini tapi ko gga ada yya berarti dah diambil ma kamu.kan gga ada lagi selain kamu.”Yya…yaa pah…sya juga tahu lah sya bakal cari.tapi dah sya cari dimana-mana.bahkan ditempat yang kayaknya gga bakal tu kunci ada disitu.and then tetep jha hasilnya NIHIL……Ehm…Tanya ma radit dia tahu gga yya…Tuttt……tuutt…tutttt…Angkat donk lagi dimana sih..“yya..”“kemana jha sih..!!”“bis maem,dap ha yank..”“say ketemuan dirumah..”“kapan??”“satu abad lagi,yya sekaranglah..”“hehe,,ayank ada-ada jha.ya iya bentar lagi ku kesitu”Klik Radit juga ditanyain gga tahu.jawabane sama jha kayak papah sama mamah disuruh nyari aja lagi siapa tahu keselip or gimana.orang gga mungkinlah u kunci keselip coz banyak gitu kunci-kuncinya,lagian gue juga kalo naro gga ditempat yang terselip-selip gitu…hmmmAlhasil dah beberapa hari ne gue gga megang kunci kayak gimana gitu.pinjem punya mamah gga boleh punya papah juga ntar kalo pulang malem kasian harus ada yang ngebangunin.Radit sih nyaranin bikin duplikat lagi jha tapi gga dibolehin ma papah… “pah…gimana donk sya gga punya kunci jadi ngerepotin mamah ma papah kan…“Tanya sama mamah sana..kamu nyimpen kunci sendiri mala nanya papah..hmmm…ada-ada ja kamu”Hah…papah tadi bilang apa gue yang nyimpen kunci sendiri,orang jelas-jelas di ingatan gue tuh terakhir dipegang ma papah.”mah…”duh…mamah mana lagi…“mah…..”“ada pa sih sya,kamu kebiasaan kayak dihutan ja njerit-njerit gitu.ne tu dirumah sya….”Ya..ya…mah…anak baru mbrojol juga tahu ne lagi dirumah bukan hutan yang banyak pohon-pohonnya.“mah kata papah kuncinya ketemu yya…?”“sana cari sendiri ditas kamu..”“tas yang man amah,tas sya kan banyak…”Terdengar dari depan samar-samar papah bilang tas warna hitam.ah,,masa iya sih bukane tu tas juga waktu tu ikut daftar pengggeledahan tapi ga ada.lah ini malah disuruh nyari disitu..Mana neh gga ada…ahh..mamah boong nih pasti.”mah gga ada….”“dicari yang bener sya…”siiiing….Oalah ne kuncinya malah jatuh.mang tadi ne kunci ngumpet dimana perasaan kemaren-kemaren dicari gga ada.tapi ko sekaranag ada yya..hehe“makanya kalo nyimpen tu yang bener terus di inget-inget lagi jangan nanya sama orang yang gga tau.pantesan ja kamu kalo nyari gga ketemu orang nyarinya buru-buru gitu makanya gga teliti.tuh kunci bukane ngilang pa ngumpet dari kamu tapi terselip ma jaket kamu tuh…”Hehehe….gitu yah pah.mana sya tau.lagian sya kan emang orangnya gitu kao naro apa-apa suka lupa.asal jangan lupa ma papah and mamah jha.pantesan kadang-kadang radit gemes ma ulah gue.kwkwkwkAlhamdulillah semenjak kuncinya udah ketemu sekarang dah gga ngrepotin mamah ma papah lagi.radit juga gga kewalahan ikut nungguin kalo ortu belum datang pa telat pulang..Semenjak tu kejadian kunci ilang,gue dah merubah sifat gue walaupun dari hal hyang terkecil yaitu gga terburu-buru dalam mengambil suatu tindakan yang harus difikir jernih dulu dan yang paling susah mengurangi dari sifat pelupa.yya walaupun manusia tempatnya lupa dan khilaf tapi se-enggaknya kita lumayan lah tuk mengantipasi agar tidak terjadi hal pelupa tersebut…hehe^_^

HIGH SCHOOL DISASTER (CHAPTER 3)

Beberapa orang cewek ok, mungkin lebih tepatnya segerombolan banyak cewek nampak mengerumuni sudut kantin sekolah sambil membuat suara gaduh seperti suara teriakan histeris atau apalah yang memekakkan telinga orang sekantin dan jalas membuat selera makan gue berkurang karna gue tahu apa yang sedang meraka lakukan disana. Mengerubungi Rheam. Yiaakks

Cowok berparas indo-bule dengan segala kelebihannya itu memang mampu merebut hati gadis siapa saja di sekolah ini. Tapi tak kusangka banyak juga gadis bodoh yang tertipu tampang malaikat Rheam. Gimana ya rasanya membuka topeng Rheam dihadapan semua orang? Namun gue tahu gue harus bersabar.

Terlihat dari sudut mata gue seorang cewek yang nampak mencolok. Gimana nggak mencolok coba, cewek bertampang indo dengan rambut dicat pirang, mengenakan rok SMA ketat dua puluh senti diatas lutut, dan baju seragam yang pastinya cowok-cowok dapat langsung berdecak kagum melihat warna pink menerawang dari balik kemeja putih yang ia kenakan. Cewek itu bernama Cindy. Disampingnya, tepat disebelah kanan dan kiri Cindy, berdiri dua cewek lain yang tak pernah lepas selalu terlihat bersama yaitu Vivi dan Tania. Mereka adalah cikal bakal pendiri fans club pecinta Rheam yang mereka namakan Rheam lover. Sekarang mereka sedang asik ngobrol dengan Rheam diikuti beberapa cewek lain yang juga anggota fans club tersebut.

Ada-ada saja cewek disekolah ini. Kayaknya di dunia ini tidak ada hal penting lain yang dapat dikerjakan hingga muncul ide gila dengan membentuk fans club Rheam segala. Emang sebegitu hebatnyakah Rheam dimata cewek-cewek di sekolah? Tanpa sadar gue ngedumel dalam hati. Bakso dalam mangkuk gue yang nggak berdosa sudah menjadi korban pencabikan secara sadis dari garpu yang sedari tadi gue pegang.

Hari ini adalah bad day buat gue. Tunggu, sejak kapan sih hari gue nggak bad day semenjak gue kanal Rheam ‘yang sesungguhnya’. Ok, tiap hari gue ngerasa bad day tapi hari ini jauh lebih parah karena Marin dan Luna nggak masuk sekolah. Alasannya simpel saja, Marin sakit flu cukup parah dan Luca yang datang menjenguknya hari minggu kemarin ikutan ketularan sehingga jadilah hari ini mereka kompakan nggak masuk sekolah. Untungnya daya tahan tubuh gue cukup kuat jadi waktu ngejenguk nggak ikut ketularan. Kasihan juga ya mereka dan kasihan juga diri gue sendiri karena sekarang gue lagi kesepian nggak ada teman untuk diajak ngobrol. Biasanya kalau ada Marin dan Luca kami selalu saja ada topik menarik untuk diobrolin. Tapi sekarang mereka lagi nggak ada disamping gue. Sekolah tampak membosankan. Apalagi ditambah pemandangan menyebalkan di sudut kantin yang bikin gue semakin muak berada di sekolah ini.

Gue berencana menghabiskan sisa es teh dari gelas kemudian segera pergi dari kantin saat tiba-tiba seseorang menghampiri meja gue. Seorang cowok yang mengenakan baju seragam baru dan memegang mangkuk berisi soto dan segelas es jeruk ditangannya. Gue terpana beberapa detik sebelum akhirnya menyadari tingkah bodoh gue dan berharap dia tidak menyadarinya.

“Sorry, meja yang lain penuh. Boleh duduk disini?”

“Eh, yah. Silakan.”

Kemudian cowok itu meletakkan mangkuk dan gelasnya dimeja dan duduk dihadapan gue. Tanpa berucap kata sepatahpun lagi ia mulai menyantap makanannya. Niat gue semula untuk meninggalkan kantin batal karna sekarang gue sedang terpana memandang wajah cowok cakep yang hanya berjarak satu meter dari hadapan gue.

Abis mimpi apa gue semalam, Lloyd sekarang ada persis didepan mata gue. Rasanya aneh. Tapi seneng juga ngelihat cowok ganteng dari jarak dekat seperti ini.

“Ada apa?” Tiba-tiba ia mendongakkan wajah ke gue, ngerasa kalo sedari tadi diliatin.

“Eh, nggak apa-apa kok.”

Srottt srootttt. Bunyi dari gelas es teh yang gue sedot-sedot walah tau sudah habis isinya. Lloyd memandang gue heran.

“Nih, minun aja punyaku.” Katanya menyodorkan gelasnya yang masih penuh ke gue.

“Eh nggak perlu, nggak perlu. Entar lo gimana?”

“Aku bisa pesan lagi.” Beberapa saat kemudian Lloyd sudah memanggil penjaga kantin datang ke meja dan memesan segelas minuman baru.

Ok, gue ralat, hari ini nggak se bad day yang gue kira. Ada Lloyd yang sekarang nemenin waktu istirahat gue dan duduk ditempat biasa saat Marin dan Luca makan bersama gue di kantin walaupun sekarang kami saling diam karna tak ada bahan percakapan lain untuk dibicarakan.

Gue menyedot es jeruk dari gelas yang Lloyd sodorkan tadi sambil bermain-main dengan sedotan dimulut. Mata gue nggak bisa lepas dari Lloyd sedikitpun.

Merasa bosan karna tak ada obrolan gue memulai lagi percakapan.

“Jadi, lo masih ingat nama gue kan?”

Lloyd berhenti dari aktifitas mengisi perutnya dan berpikir sejenak.

“Luna Kataluna”

“Wow, nggak sangka ternyata lo inget juga nama gue.” Senyum lebar menghiasi muka gue saat mendengar Lloyd menyebut nama lengkap gue dengan benar.

“Yeah, karna nama kamu terdengar unik.”

Sebentar, itu pujian atau malah ledekan ya? Ok, nggak masalah. Yang penting dia ingat nama gue. Gue senyum-senyum sendiri dalam hati.

“Lloyd , kalau boleh tahu apa alasan lo pindah ke Indo?”

Lloyd berhenti sejenak kembali, seperti memikirkan kata-kata yang hendak diucapkannya.

“Aku ingin berjumpa kambali dengan seseorang.” Katanya dengan tampang datar seperti biasa.

Seseorang? Mantan pacarnya atau keluarganya kah? Atau mungkin gadis yang ia suka? Gue memikirkan segala kemungkinan yang ada. Seolah penasaran dengan siapa orang yang ingin ditemui Lloyd disini.

“Siapa?” tanya gue hati-hati, namun Lyoid tak memberikan jawaban.

Sial. Harusnya gue nggak usah tanya. Dengan muka manyun gue mengaduk-aduk es jeruk dengan sedotan. Saat mengalihkan pandangan tak sengaja sudut mata gue bertemu dengan mata Rheam yang memandang tajam ke arah gue. Gila, ngapain tuh cowok pake melototin gue segala. Ternyata gue emang ngak pernah luput dari perhatian dia. Segera saja gue alihin lagi pandangan kearah lain pura-pura tidak menggubris adanya Rheam di kantin.

“Rheam, boleh minta foto bareng nggak untuk dipajang di album fans club kami?” teriak seorang cewek cukup nyaring untuk didengar sampai ketelinga gue.

“Tentu saja boleh, ambil foto sebanyak yang kalian suka.” Jawab Rheam ramah. Hueeekk.. gue harap ada tempat sampah didekat sini karna perut gue tiba-tiba mual.

Para cewek asik mengerubungi Rheam dan berpose sok imut kemudian mengambil gambar dengan kamera flash light. Sementara cowok-cowok yang berada di sekitar kantin berdengus kesal memandang cewek-cewek yang keganjenan dan merasa dirinya kalah saingan. Kasihan

“Eh, udah selesai makannya?” Gue beralih pada Lloyd yang hendak berberes meninggalkan meja.

“Iya.”

“Abis ini mau kemana?” tanya gue.

“Pulang.”

“Pulang? Bukannya belum selesai pelajaran?”

“Nggak masalah.” Tanpa menunggu lebih lama lagi Lloyd berjalan meninggalkan kantin diriingin gue yang berusaha mengikutinya dari belakang.

“Tunggu! Kamu nggak bermaksud bolos sekolah kan?” tanya gue sebelum kami meninggalkan gerbang kantin. Lloyd berhenti dan membalikkan badan.

“Iya, mau ikut?”

Tanpa menunggu jawaban dari gue ia melangkahkan kembali kaki jenjangnya menyusuri lorong sekolah. Dari belakang tanpa gue sadari Rheam memandang lekat kearah kami.

-“-“-

“Sebenarnya apa sih yang lo pikirin, bukannya lo baru masuk sekolah dua hari ini dan lo udah berniat untuk bolos?” tanya gue sambil berlari-lari kecil disamping Lloyd berusaha menyamakan langkah dengannya. Gila, susah juga ngimbangin langkah kaki Lloyd yang panjang.

Nggak disangka gue memutuskan untuk mengikuti Lloyd bolos sekolah. Gue harap nggak bakal di skors gara-gara bolos pelajaran matematika di jam terakhir. Tau sendiri guru matematika gue kan paling killer di sekolah. Kalau gue sampai di skors Lloyd bakal nemenin gue juga pastinya.

“Aku harus melakukan sesuatu hari ini, nggak bisa menunggu sampai pelajaran selesai. Nanti nggak akan selesai hingga petang.”

“Ngelakuin apa? Gimana ntar kalo dimarahin guru? Kita juga bakal ketinggalan pelajaran kalo bolos.”

“Semua pelajaran yang diajarkan disini sudah pernah kupelajari dulu.”

“Apa? Emang beneran lo udah pelajarin semuanya?” tanya gue setengah kaget setengah nggak percaya dengan kata-kata Lyoid. Nggak nyangka kami udah berjalan cukup jauh hingga kesuatu tempat yang nampak tak asing bagi gue. Sekitar seratus meter didepan sana terlihat sebuah apartemen tinggi menjulang dan megah. Gue mengikuti Lloyd berjalan memasuki apartemen tersebut dan kini kami berada didalan lift menuju ke lantai 20 dimana tempat tinggal Lloyd berada. Lumayan jauh juga untuk gedung bertingkat 50 lantai. Apartemen ini berada di pusat kota dekat dengan segala fasilitas penting dan tentunya sekolah kami juga. Ugh, ternyata dia anak orang kaya.

Lift pun terbuka tepat di didepan sebuah pintu yang bertuliskan Ashton Lloyd pada sebuah papan ukiran tembaga berkilau.

Lloyd memasukkan kunci kelubang dan membuka pintu tersebut diiringi wajah terkagum gue melihat isi apartemennya yang serba mewah. Ok, memang bukan baru pertama kali ini gue melihat rumah mewah. Saat pertama menginjakkan kaki di rumah keluarga Collins pun demikian. Gue sempat terkagum-kagum akan kemewahan  rumah tersebut. Begitu juga saat pertama kali masuk SMA Permata Bangsa. Tapi tetep aja gue ngerasa janggal tiap kali memasuki tempat mewah seperti ini.

Lloyd mempersilakan gue masuk dan dia berjalan duluan ke dalam. Namun tiba-tiba gue menjadi ragu untuk mengikutinya. Maksud gue, hey, gue baru kenal Lloyd tiga hari dan dia sudah berani mengajak gue kerumahnya. Ok, emang sih tadi gue sendiri yang pengen ikut. Tapi apa sebaiknya gue ikutin dia masuk atau gue urungkan niat sekarang sebelum semuanya terlambat? Bukan bermaksud berpikir negatif sih. Tapi untuk jaga-jaga saja.

Setelah beberapa detik berpikir, waktu yang cukup lama disaat nervous akhirnya gue mengambil satu langkah kaki. Pada akhirnya memang rasa penasaranlah yang menang. Gue berjalan perlahan memasuki apartemen Lloyd dan melihat banyak barang-barang dalam box yang belum selesai ditata.

“Belum sempat ku bereskan semua karna terlalu sibuk dengan administrasi sekolah.” Kata Lloyd seakan mengerti apa yang gue pikirkan.

“Kenapa nggak manggil orang aja untuk ngerjain semua? Gue yakin lo pasti mampu bayar.” Kata gue sambil mengedarkan pandangan keseluruh ruangan. Apartemennya luas dengan beberapa ruangan yang cukup ditinggali satu keluarga dan prabotan mewah disemua sudut apartemen. Dinding ruang tamu di cat warna pastel dan marun dan terdapat sebuah gorden ungu dipojok ruangan.

“Untuk prabotan yang besar, iya. Selebihnya ingin kukerjakan sendiri karna tak ingin orang lain merusaknya.” Jawab Lloyd sembari membuka gorden ungu yang tadi gue lihat.  Terlihat pemandangan kota dari atas.

Lalu Lloyd membuka seluruh pintu ruangan yang ada kemudian berjalan kesudut ruang tamu tempat kami sekarang berdiri, mencari-cari sesuatu dalam salah satu box yang tertumpuk. Gue masih tetap mengedarkan pandangan keseluruh ruangan. Barang-barang yang ada terlihat manis dan elegan. Vas bunga dengan bermacam bunga warna-warni baik yang imitasi ataupun bunga segar terlihat menghiasi seluruh ruangan di Apartemen. Pandangan gue beralih pada sebuah sofa berwarna merah muda yang terlihat nyaman. Gue menghampiri sofa tersebut dan duduk sambil memeluk batal warna-warni yang ada di sofa. Apartemennya terlihat penuh warna dan terkesan girly.

“Dulu apartemen ini pernah ditinggali oleh sepupu perempuanku sebelum aku pindah ke sini.” Lagi-lagi Lloyd membaca pikiran gue.

“Apa lo tinggal sendirian disini atau bareng orang lain? Orang tua lo mungkin?” Tanya gue ke Lloyd tapi seketika muka gue berubah pucat pasi. KENAPA DIA HARUS BUKA BAJU DI DEPAN GUE????!!!!

Mata gue melotot karna kaget. Lloyd mengganti baju seragamnya dengan kaos yang baru ia temukan di box. Ya, tepat dihadapan gue! Dapat dengan jelas gue lihat punggungnya yang mulus dan putih bersih. Otot-otot punggung dan lengannya terlihat atletis dengan perut ramping dan postur tinggi besar ala bule-nya. Aduh apa nggak ada tempat lain apa kenapa musti didepan gue?? Dasar bule emang suka seenaknya sendiri. Untung dia nggak ganti celana juga di depan gue. Bisa kena serangan jantung mendadak kalo sampai beneran.

“Aku tinggal sendirian. Semuanya kuurus sendiri.” Jawab Lloyd menghampiri sofa tempat gue berada. LAGI-LAGI, KENAPA WAJAHNYA SEMAKIN MENDEKAT??? Gue menahan nafas beberapa detik saat wajah Lloyd tepat dihadapan gue dan pastinya nggak bisa mengelakkan rona merah di pipi. Beberapa saat ia memundurkan kembali tubuhnya dengan membawa dua pasang sarung tangan yang baru dipungutnya dari sebuah box dibalik sofa. OMG, gue bakal beneran kena serangan jantung.

“Pakai sarung tangan ini untuk memindahkan barang-barang keramik disana, nih!” ia menyodorkan sepasang sarung tangan ke gue dan memakai sepasang lagi untuknya sendiri. Dengan cekatan Lloyd memindahkan barang-barang pindahan ketempat semestinya. Gue yang masih sedikit shock dan  bingung mengikutinya memindahkan barang-barang.

Apaan nih? Bolos sekolah untuk kerja rodi?

“Bukannya kata lo tadi lo nggak mau dibantu orang lain karna takut orang lain ngerusak barang-barang lo?”

“Iya, tapi kurasa kamu berbeda.”

Ugh, pipi gue memerah lagi mendengar kata-kata Lloyd . Pura-pura tak merespon gue terusin lagi acara memindahkan barang.

Semua barang-barang keramik sudah tertata semua di almari hias. Kini giliran barang-barang di box satunya. Gue melihat box  satunya di dekat gue yang masih disegel tak seperti box-box yang lain yang sudah terbuka. Lloyd masih menata barang-barang di ruang sebelah. Karna penasaran gue  membuka box tersebut dan menemukan beberapa barang didalamnya. Sebuah boneka bebek berwarna kuning dan putih dengan perut besar menyembul pertama kali dari dalam box. Gue memungutnya dan mengamatinya dengan heran. Didalam box masih ada beberapa barang lagi. Seperti beberapa pigura yang tertelungkup dan foto album serta beberapa CD dalam CD box.

‘Aneh sekali, kenapa dia bawa-bawa boneka segala?’ pikir gue dalam hati.
‘Mungkin boneka pemberian dari seseorang atau boneka itu akan diberikan untuk orang lain?’ gue masih bertanya-tanya. Boneka itu terlihat usang entah mengapa.

Gue hendak memungut pigura dalam box ketika tiba-tiba dikejutkan oleh sebuah tepukan pundak dari belakang. Kontan gue kaget dan langsung menolehkan tubuh kebelakang. Jarak muka gue hanya satu senti dari wajah Lyoid. Gue terdiam beberapa saat karena shock. Wajah tampan Lyoid dapat dengan jelas gue lihat bahkan hidung mancungnya sedikit lagi hampir menyentuh hidung gue. Nafas gue lagi-lagi tertahan beberapa saat, nggak tau apa yang harus gue lakukan saat ini. Rona merah kembali muncul di pipi.

“Sorry, gue cuma mau bantu pindahin barang-barang di box ini.”  Kata gue kikuk.

Wajah Lyoid nampak berbeda dari ekspresi biasanya. Ia memandang pada boneka bebek yang gue pegang. Beberapa detik tampak sunyi.

“Ini boneka elo?”

“Iya” jawab Lyod singkat sambil mengambil boneka itu dari tangan gue. “Barang-barang di box ini biar aku saja yang urus. Kamu bisa bantu pindahkan barang-barang di box lain.” Ucap Lyoid dengan ekspesi datar. Kini wajahnya sudah tidak lagi persis didepan gue. Akhirnya bisa menghembuskan nafas lega juga. Huufff, emang deh semakin lama bisa kena serangan jantung beneran kalo lama-lama berada disini.

Lyoid mengangkat box berisi barang-barang yang baru gue temukan ke sebuah ruangan. Sepertinya itu kamarnya. Gue hanya bisa mengamatinya berlalu begitu saja. Dengan wajah tanda tanya akhirnya gue putuskan untuk memindahkan barang-barang di box yang lain.

Jam menunjukkan pukul 9 petang ketika sampai di rumah. Untung ortu nggak marah saat gue pulang. Alesannya sih ngerjain tugas kelompok di rumah teman. Aduh dosa ya gue bo’ong sama ortu. Tapi kalo ngomong yang sejujurnya bisa kena marah abis-abisan ntar. Masa gue mau bilang bolos pelajaran sekolah karena ikut-ikutan temen cowok yang baru gue kenal tiga hari lalu datang kerumahnya dan disuruh kerja rodi? Nggak lucu banget kan?

Rheam berdiri di pojok ruangan mengamati gue dengan wajah curiga. Gue pura-pura nggak peduliin keberadaan Rheam saat akan kembali ke kamar. Sial, moga aja Rheam nggak nggak tau tentang kejadian tadi siang. Sampai dikamar gue langsung ambruk di kasur dan tertidur pulas seketika. Benar-benar hari yang melelahkan.

-Sierra Louiza-

HIGH SCHOOL DISASTER (CHAPTER 2)

Gue nggak tau apa yang membuat Rheam sangat membenci gue. Yang gue tau pasti gue benci Rheam karna Rheam benci gue. Semua dimulai baik-baik saja sebelum pertama kali gue menginjakkan kaki di kediaman keluarga Collins seminggu yang lalu saat mama sudah resmi menikah dengan Antony Gilbert Collins, papa baru gue sekaligus ayah kandung Rheam. Gila, keren banget ya namanya walau seratus persen pure Indonesia asli tapi namanya import abis boo.

Waktu itu gue masih baik-baik saja tanpa ada perasaan was was sedikitpun menginjakkan kaki dirumah itu. Gue sempat terkejut waktu pertama kali melihat Rheam berada di rumah itu dan ternyata dia adalah anak tunggal keluarga Collins. Memang sebelumnya gue sama sekali belum pernah berkenalan dengan Rheam secara langsung walau gue sudah tau Rheam semenjak awal mula masuk SMA bonafid tempat gue bersekolah saat ini, SMA Permata Bangsa. Gue nggak tau sebelumnya kalau Rheam bakal menjadi saudara tiri gue karna papa Rheam tidak menceritakan apa-apa soal putra tunggalnya kecuali cuma pernah berkata bahwa beliau memang memiliki seorang putra tunggal yang usianya kira-kira seumuran dengan gue. Pada waktu acara pernikahan mama dan papa tiri pun Rheam sama sekali tidak hadir dalam resepsi entah karna alasan apa. Jadi wajar dong kalau gue sempat terkejut mengetahui kehadiran Rheam saat itu.

Rheam memang sempat membuat gue sedikit berdebar dan salah tingkah untuk pertama kali saat bertemu karna dia merupakan cowok tertampan and the most wanted guy in school sebelum gue tau sifat aslinya seperti apa. MONSTER!!

Di hari pertama gue tinggal satu atap bersama Rheam, dia sudah mulai menunjukkan rasa tidak sukanya terhadap gue. Mulanya gue tidak begitu curiga terhadap Rheam dan Rheam pun nampak bersikap biasa ketika dihadapan kedua ortu. Gue pun mengira semuanya akan lancar-lancar saja.

Hingga suatu ketika Rheam mendorong gue memasuk ke gudang ketika gue sedang membereskan barang-barang saat pindahan. Gue sangat terkejut hingga hampir berteriak saking kagetnya namun Rheam sudah lebih dulu membekap mulut gue dengan tangan kekarnya sehingga terikan gue sama sekali tidak terdengar. Gue panik setengah mati.

“Nama lo Luna kan? Lo yang jadi sodara tiri gue sekarang? Lo diem atau lo bakal gue kurung seharian di gudang dan nggak ada seorang pun yang tau lo disini!” ancam Rheam dan gue segera diam tak berkutik karna takut pada acamannya. Lagiankan mulut gue dibungkam mana bisa ngomong.

“Denger, gue nggak suka sama lo dan kehadiran lo di rumah gue. Gue pengen lo cepet-cepet pergi dari rumah ini. Lebih cepat lebih baik atau lo bakal tanggung akibatnya.”

Rheam pun melepas bungkaman tangannya dari mulut gue dan pergi meninggalkan gue yang masih shock dan sedikit sesak nafas karna bungkamannya barusan.

Benarkah tadi itu Rheam? Ia berbeda sekali dengan sosok yang selama ini gue kenal di sekolah. Rheam sang pengeran yang dipuja-puja cewek satu sekolah?

Semenjak saat itu gue mulai berhati-hati dengan Rheam dan begitulah hari-hari malang gue pun dimulai. Mulai dari dimatikannya lampu saat pergi ke kamar mandi. Mengganti odol dengan shampoo, mencampur makanan gue dengan sambal super pedas hingga gue megap-megap kaya ikan mas koki, lalu menyembunyikan sepatu gue di atas lemari dan mencoret-coret buku pelajaran gue hingga pernah juga merobek-robeknya. Bahkan sempat gue dikunci di kamar mandi saat semua orang sedang pergi dan hanya ada gue dan Rheam di rumah. Waktu itu gue sampai nangis karna takut nggak dibukain pintu. Yang lebih parah lagi saat dia menaruh ulat bulu di seragam gue dan gue nggak tau hingga mengenakan seragam itu saat akan pergi ke sekolah. Kontan gue langsung teriak sekeras-kerasnya mengetahui ada benda hijau berbulu menggeliat-geliat di punggung. Asli gue paling alergi sama yang namanya ulat bulu. Dan sekarang gue mendapati makhluk imut itu nangkring di badan gue. Untung gue nggak sampai pingsan tapi hanya bentol-bentol sekujur tubuh. Itulah hari tersial gue berada di rumah ini semua karna ulah si cowok monster!

Tapi gue nggak sampai mengadukan itu ke ortu karna gue nggak mau mengacaukan hubungan pernikahan mereka yang baru saja terjalin beberapa waktu. Setidaknya gue harus mengesankan semuanya baik-baik saja dan berusaha menjalin hubungan harmonis sebagai satu keluarga. Yah itu pun jika mereka bakal percaya ke gue jika gue adukan masalah ini karna menurut gue ortu  nggak bakal percaya kalau Rheam itu jahat. Coz selama ini Rheam selalu terlihat baik didepan ortu.

“Lun, napa lo tadi telat masuk kelas?” tanya Marin sahabat baik gue ketika jam istirahat berlangsung. Gue sama kedua sahabat gue, Luca dan Marin lagi jajan di kantin sekolah.

“Iya, lo bikin khawatir kita-kita aja.” Luca menambahi.

“Gara-gara siapa lagi gue terlambat kalau bukan karna si cowok monster berwajah pangeran itu.” Jawab gue sewot karna masih kesal dengan ulah cowok sumber mala pataka hidup gue itu.

“Rheam maksud lo? Emang sampe sekarang lo masih terus dikerjain sama dia?”

“Dia nggak bakal berhenti ngerjain gue sampai gue pergi dari rumahnya.” Gue mencacah-cacah siomay yang baru saja gue pesan dengan garpu membayangkan seolah-olah itu Rheam yang sedang gue cacah-cacah.

“Gila ya tuh cowok. Masa sih dia sampai sebegitunya pengen ngusir lo. Gue sampai hampir nggak percaya waktu lo cerita tentang Rheam. Secara dia kan cowok super ramah dan santun di sekolah. Apalagi dia ganteng banget, populer, trus pinter lagi. Pokoknya perfect deh. Emang dia punya dendam apa sama lo, Lun?”

Gue cuma angkat pundak menanggapi komentar Marin sambil menyedot es jeruk dengan muka masam. Gue lagi sebel banget sampai-sampai males buat ngomong.

“Mana ada manusia yang perfect di dunia ini. Jangan menilai orang dari penampilan luarnya doang. Orang bisa saja baik di muka busuk di dalam.” Luca mengomentari.

“Jyaah Luca, napa lo ikutan sewot? Lo perhatian banget ya sama Luna. Jangan-jangan lo suka kan sama Luna, benar kan ayo ngaku??” goda Marin ke Luca yang kontan langsung membuat muka Luca bersemu merah.

“Apaan sih lo, kan wajar sebagai teman ikut khawatir. Emang salah ya kalo gue khawatir sama keadaan Luna. Lo juga sama kan?” balas Luca berusaha menyembunyikan rasa malunya dari gue dan Marin. Marin memang sudah biasa bercanda seperti ini pada Luca. Namun Luca tatap salah tingkah tiap kali Marin berkata kalau Luca suka sama gue. Kalau sudah begitu pasti wajah Luca bersemu merah bak kepiting rebus. Gue sih fine-fine aja menanggapi mereka. Gue malah ikutan cekikikan bareng Marin saat melihat muka Luca merah padam karna malu. Serius, lucu banget.

“Aduh, ngaku aja kali Luc. Luna juga nggak bakalan marah kok. Iya kan, Lun?”

“Hihihi..” gue cuma cekikikan aja.

“Apaan sih, nggak kok. Udah deh lo nggak usah ngebahas ini.” Luca melirik ke gue takut-takut sambil tetap salah tingkah.

“Ok deh ok, kan cuma bercanda doang dan seenggaknya kita udah berhasil buat Luna nggak ngambek lagi. Tuh buktinya sekarang dia udah bisa cengengesan.”

Marin tersenyum manis ke gue dan gue pun balas tersenyum manis ke dia dan Luca. Kami bertiga memang sudah bersahabat sejak SMP. Dari kelas satu sampai kelas tiga SMP kami selalu sekelas begitu pula ketika masuk SMA kami terus sekelas hingga saat ini. Sekarang kami duduk di kelas 1IPA5. Marin tipe cewek periang dan pandai bergaul dan Luca adalah tipe cowok pemalu tapi imut dan kadang suka grogi. Mereka senantiasa menjadi sahabat karib gue. Kami bertiga selalu melakukan hal apapun bersama. Gue udah anggap mereka seperti  saudara sendiri kecuali Rheam tidak termasuk dalam hitungan. Amit-amit deh gue juga nggak mau ngakuin Rheam sebagai saudara tiri ke temen-temen kecuali hanya pada Luca dan Marin. Gue nggak mau punya saudara sadis kayak dia.

“Gue nggak ngambek lagi karna gue nggak mau berlarut-larut mikirin Rheam. Soalnya selain ketimpa sial hari ini gue juga baru ketimpa mujur. Hehehe…”

“Eh ketimpa mujur apaan? Emang lo baru dapet apa, Lun?” tanya Marin penasaran.

“Beneran pengen tau?”

“Iya, kasih tau dong!” desak Luca. Gue sengaja memancing rasa penasaran mereka karna gue memang suka membikin orang lain penasaran. Hehe. Jahil juga ya gue.

“Udah, cepetan deh kasih tau!”

“Ok ok.. tadi pagi gue baru ketemu malaikat …”

“Lun, maksudnya lo baru saja mati suri gitu?” Marin tiba-tiba saja memotong kata-kata gue sambil terkejut.

“Bukaaan ..!! Makanya lo dengerin kata-kata gue dulu sampai selesai. Tadi pagi gue ketemu cowok super ganteng di halaman belakang sekolah pas telat masuk kelas. Mukanya cakep banget mirip malaikat gitu deh.” Cerita gue dengan antusias ke kedua sohib gue. Tentu saja gue nggak bakal ceritain kejadian memalukan saat muka gue nyrungsep ke tanah pas ketemu dia. Bisa tengsin dua kali ntar.

“Trus..trus..??” tanya Marin penasara.

“Dia tinggi, cakep, putih, keren dan… bule!”

“Lho, itu bukannya ciri-ciri Rheam?”

“Gue nggak lagi ngomongin Rheam!!!” bentak gue sewot.

Ugh, kenapa juga harus Rheam lagi Rheam lagi. Emang di dunia ini cuma Rheam doang yang punya ciri-ciri kaya gitu. Ih, gue jadi illfeel lagi kan.

“Iya deh non, sorry lanjutin.”

“Menurut gue dia tuh cowok paling cakep yang pernah gue liat seumur idup.”

“HAH YANG BENER??”

“Emang secakep apa sih cowok yang lo lihat?” tanya Luca bernada kesal.

“Cakep banget. Lo berdua harus liat sendiri tampangnya biar pada tau.”

“Gue pengen liat, gue jadi penasaran.” Kata Marin.

“Gue liat pun juga nggak bakalan tertarik. Gue kan nggak homo.” Timpal Luca.

“Iya ya, Luca kan tertariknya cuma sama Luna doang.”

 “Hahahaha…”  Marin dan gue tertawa serempak. Luca akhirnya mingkem tak berkutik hanya wajahnya saja yang berubah merah lagi seperti kepiting rebus.

“Eh, dia anak sekolah ini juga lho!” sambung gue.

“Cowok ganteng yang lo temui itu? Yang bener?”

“Ya iya lah..emang lo kira tukang kebun apa mentang-mentang gue ketemunya di pekarangan? Trus ngapain juga ada orang luar iseng masuk area sekolah apalagi cowok secakep dia kalau bukan murid sini.” jawab gue sewot.

“Tapi gue kok gue nggak pernah liat cowok yang lo sebutin ciri-cirinya itu sebelumnya ya?”

“Dia anak baru.” Jawab gue singkat.

“Serius lo?”

“Dua rius malah.”

“Yeeee asik dong.” Teriak Marin girang.

“Nggak asik!!” seru Luca

“Kenapa? Pasti cemburu ya?”

“Nggak kok.” Luca coba mengelak dengan muka memerah (lagi-lagi!). Tawa gue dan Marin pun membahana.

Pas gue lagi asik bercanda dengan Marin dan Luca. Gue lihat Rheam lagi ngelihatin gue di depan kantin dengan wajah nyeremin. Gue langsung merinding.

“Eh, gue ke toilet bentar ya.” Kata gue langsung cabut begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Marin ataupun Luca.

“Ok, ati-ati ya!” teriak Marin dari jauh.

Gue emang sengaja menghindari Rheam jika di sekolah karna gue benci banget sama Rheam. Lihat mukanya saja udah bikin sebel. Apa lagi kalau deket-deket bisa epilepsi ntar. Jadi sebisa mungkin gue harus jaga jarak sama dia. Kecuali disaat-saat tak terduga kaya tadi pagi ya itu sih gue nggep musibah.

Gue nggak jadi ke toilet karna emang nggak lagi kebelet sih. Tadi cuma pura-pura doang. Sekarang gue lagi jalan-jalan di sekitar taman tanpa arah tujuan. Tiba-tiba mata gue menangkap sosok Lloyd yang sedang berada di lantai dua. Tampaknya dia sedang mengecek ruang kelas. Gue mengamati dia sejenak. Lalu tanpa sengaja cowok cakep itu melihat ke bawah dan dia melihat gue. Langsung saja gue lambein tangan.

“Hey!” sapa gue. Tapi kok dia nggak ngerespon ya? Ih masa si dia nggak nyadar ada gue. Tapi gue yakin kok kalo tadi dia liat gue. Dia lalu alihin pandangannya lagi ke lain tempat. Sialan masa gue dicuekin sih. Akhirnya dengan muka jutek gue balik lagi ke kantin.

Esok paginya gue udah stay pagi-pagi dikelas bareng Marin dan Luca. Gue sengaja berangkat pagi sehabis sarapan dengan terburu-buru jadi ortu nggak sempat nyaranin gue berangkat bareng Rheam. YESS!!

Gue lagi asik ngobrol ngalor ngidul bertiga tiba-tiba wali kelas datang bareng seorang cowok yang nggak asing lagi dimata gue. Lloyd!

“Semuanya duduk tenang, hari ini kita kedatangan murid baru.” Kata wali kelas coba menenangkan kegaduhan yang terjadi dalam kelas karena sudah bisa ditebak cewek mana sih yang nggak bakal histeris melihat ada makhluk super tampan dihadapan mata mereka. Lain lagi dengan para cowok di kelas yang turut ribut karena penasaran dengan apa yang sedang diributkan para cewek. Yee sama aja dong!

Setelah suasana cukup kondusif, Lloyd mulai angkat bicara.

“Selamat pagi, Saya Lloyd Ashton, murid pindahan baru di sekolah ini. Salam kenal.” Kata Lloyd memperkenalkan diri dengan singkat tapi membuat penasaran. Cewek-cewek penghuni kelas mulai ribut lagi sambil bisik-bisik setelah mendengar suara merdu milik Lloyd. Bahkan ada yang sampai histeris. Set dah lebay.
Gue dengan tenang mengamati dari jauh karna tempat duduk gue emang kebetulan rada belakang.

“Tenang, semuanya tenang. Kembali ke tempat duduk masing-masing!” bentak wali kelas.

‘Sukurin lo pada, suka sok kecentilan sih!’ lho kok malah gue yang jadi sewot? Untung gue cuma ngomong dalam hati doang.

“Lloyd, silakan duduk di tempat duduk yang masih kosong di sebelah sana.”

DEG!

Dia pasti lihat gue. Coz tempat duduk masih kosong yang dimaksud berada di sebelah Luca dan berseberangan dengan tempat duduk gue. Gue duduk semeja bareng Marin.

Aduh, jantung gue kenapa kok lonjak-lonjak gini sih. Entar kalo copot gimana?

Lloyd pun dengan pasti melangkah semakin mendekat dan gue semakin salah tingkah. Aneh banget kenapa gue ngerasa nervous begini. Ketemu juga baru dua kali termasuk hari ini. Ok, tiga kali kalo pas waktu istirahat kemaren dihitung. Tapi harusnya gue nggak perlu segrogi ini kan. Walau gue patut malu kalo mengingat-ingat kejadian kemarin. Ampun deh nggak mau ingat-ingat lagi. Malu-maluin.

Lloyd sekarang udah duduk di seberang gue. Gue nggak tau kapan dia udah ada disana karna gue barusan tutup mata. Gue intip ke seberang hati-hati dan melihat Lloyd duduk tenang menghadap depan. Aslinya pengen gue sapa, tapi guru matematika udah terlanjur datang. Gue urungkan niat untuk sementara.

Dua jam pelajaran akhirnya kelar juga. Saatnya ganti pelajaran olahraga. Yes, gue bersorak gembira karna sudah lepas dari pelajaran yang paling gue benci itu. Anak cewek berganti pakaian di ruang ganti khusus cewek. Sedangkan anak cowok biasanya cukup berganti pakaian di kelas walau sebenarnya sudah ada juga ruang ganti khusus bagi cowok.

Gue lari mengitari lapangan penuh semangat beriringan dengan Marin disebelah gue disusul dengan Luca yang masih tertinggal agak jauh di belakang. Kasihan sekali Luca. Kayanya dia nggak bakat olahraga deh.

Selama pelajaran olahraga berlangsung mata gue mencari-cari sosok Lloyd tapi nggak ketemu-temu. Kemana sih tu anak? Heran deh. Pandangan gue bereadar ke seluruh penjuru lapangan. Akhirnya gue temukan sosok yang gue cari-cari di bawah pohon rindang di pinggir lapangan. Lagi-lagi dia tertidur saat jam pelajaran.

Gue berlari menghampirinya kemudian berdiri tepat di depannya. Dia masih saja tertidur dengan pulas bagai malaikat yang sedang kelelahan. Tapi walau sedang tertidur begitu wajahnya tetap kelihatan tampan. Memang dasar cowok cakep lagi apapun tetep aja cakep.

“Hey, ayo bangun! Kenapa malah tidur saat jam pelajaran mentang-mentang guru olah raga nggak datang?” kata gue sambil berkacak pinggang.

Dia mengerjapkan matanya terbangun dari mimpi seperti orang yang sedang terganggu. Gue tetap berdiri dihadapannya dan menanti reaksi dia selanjutnya. Dia akhirnya membuka mata dengan sempurna dan menatap gue dengan kedua bola mata indah itu.

“Kamu siapa?” tanya dia.

“Hah?” gue kaget mendengar pertanyaannya.

“Lo nggak inget sama gue?” gue balik nanya.

“Maaf aku lupa.” Jawab dia datar.

WHAT THE F**K?? Kenapa dia bisa lupa? Padahal kemarin jelas-jelas kita ngobrol cukup lama waktu gue anterin dia ke ruang kepala sekolah. Masa si sekarang dia sudah lupa sama gue? Apa barusan dia gagar otak abis ketimpa batang pohon jatuh gara-gara tidur dibawah pohon? Tapi gue lihat disekeliling nggak ada batang pohon jatuh tuh. Kok dia bisa lupa ya?

“Kita kemarin sudah pernah ketemu.” Gue coba mengingatkan.

“Oh, kamu cewek yang waktu itu?”

Hah, ternyata dari tadi dia nggak ingat tampang gue. Percuma dong gue dag-dig –dug dor. Pantesan juga kemarin dia nggak ngerespon waktu gue panggil dari lantai bawah. DIA LUPA SAMA GUE!!

“Iya, itu gue.” Kata gue setenang mungkin berusaha bersikap biasa walau sebenarnya sangat kaget dan kesal. “Gue cuma mau ngembaliin ini ke elo.”

Gue sodorin saputangan dia kemarin yang sudah gue cuci bersih di rumah. Lloyd menerima saputangan tersebut.

“Thanks … hmm …” Llyod mencoba menyebutkan nama gue namun ia masih belum bisa mengingat-ingatnya.

“Lo pasti lupa juga nama gue kan?”

“DENGAR!”

Gue berdiri memperbaiki posisi sambil mengacungkan jari telunjuk tepat dihadapannya.

“Ingat ini baik-baik. Nama gue Luna Kataluna. Dan gue pasti akan buat elo nggak akan pernah lagi melupakan nama gue setelah ini.”

WUUUUUUSSSSSS.. Semilir angin menerbangkan dedaunan kering disekitar dan menerpa tubuh kami berdua. Gue tersenyum percaya diri pada Lloyd kemudian membalikkan badan dan berlari lagi ke tengah lapangan. Gue pasti bakal buat Lloyd ingat nama gue untuk seterusnya. Ya, gue yakin itu.

-Sierra Louiza-