Sabtu, 23 April 2011

Malaikat Tak Bersayap

Hidup di sebuah perkampungan nelayan adalah hal yang sangat menyenangkan. Bermain di dekat pantai dan merasakan sejuknya hembusan angin. Apalagi jika kita selalu bersama dengan seorang teman yang selalu ada di samping kita, di saat kita bahagia maupun di saat kita merasakan pahitnya kehidupan. Namaku Tian, aku berumur 13 tahun. Saat berumur tiga tahun, aku mengalami sebuah kecelakaan yang mengakibatkan kedua mataku tidak bisa melihat lagi. Kata dokter aku bisa sembuh jika ada seseorang yang mau mendonorkan kedua matanya untukku. Aku tidak terlalu berharap, karena aku tau tidak semudah itu menemukan seseorang yang mau mendonorkan kedua matanya. Kami adalah keluarga yang sederhana, namun aku tetap merasa bersyukur atas semua yang telah Tuhan berikan kepadaku, karena aku dikelilingi orang-orang yang menyayangiku.
Masa laluku cukup menyedihkan. Ketika aku berumur 7 tahun, rumah kami terbakar, ayahkupun meninggal dunia karena menyelamatkan aku dari kebakaran. Yang tersisa hanyalah aku, adikku, dan ibuku. Setelah beberapa lama, kami kembali bangkit dari kesedihan. Kamipun memulai sebuah kehidupan yang baru. Kehangatan sebuah keluarga telah kami dapatkan kembali, walaupun tanpa hadirnya sesosok ayah di samping kami. Setiap sore aku selalu bermain di dekat pantai dengan sahabatku Dewi. Dia yang selalu menuntunku kemanapun aku pergi. Tangan ini rasanya terbiasa dengan sentuhan sayang seorang sahabat. “Dewi, kamu dimana? Kita pulang yuk, aku kan harus bantuin ibuku di rumah!” Panggilku. “Iya, iya!! aku dibelakangmu, jangan khawatir!”jawab Dewi dengan nada meledek. “Aku kira kamu ninggalin aku! aku takut!” kataku dengan lega. “Mana mungkin aku ninggalin kamu? Sahabatku dari kecil yang selalu ngerepotin aku ini sudah aku anggap saudara”jawab Dewi dengan candaan. “Dasar! Tapi janji ya kamu nggak akan ninggalin aku?” Tanyaku. “Nggak akan pernah aku ninggalin kamu! Ayo kita pulang!”jawabnya meyakinkan. Setelah mengantarkan aku pulang, Dewi segera pulang kerumahnya.
Karena hari Minggu, aku dan Dewi berjalan-jalan di sekitar rumah. Setelah lelah, kami berdua istirahat. “Tian, aku pingin banget kamu bisa melihat lagi. Kapan ya itu terjadi? Aku selalu berdo’a buat kamu!”harap Dewi kepadaku. “Suatu saat!! Karena aku yakin Tuhan akan memberiku yang terbaik!! Makasih ya do’anya! Kamu berarti banget buat aku!”jawabku meyakinkannya. Setelah puas berjalan-jalan, aku dan Dewi pulang. Sebelum Dewi pulang, dia mengatakan sesuatu kepadaku. “Nanti jika kamu bisa melihat dunia kembali, tolong jangan lupakan aku sebagai sahabatmu, ya!! Karena aku akan sedih jika itu terjadi!!”kata Dewi dengan nada sedih. “Nggak mungkin dan nggak akan pernah mungkin bagi aku buat ngelupain kamu, sahabat yang selalu setia menemani aku dalam suka dan duka. Aku janji!!” jawabku meyakinkannya. “kamu harus memberiku bunga jika kamu bias melihat nantinya!” jawab Dewi. “Bunga?? Iya, deh, aku janji!!”jawabku. Setelah Dewi mendengar jawabanku, dia berterima kasih dan segera pulang, meninggalkanku dengan pertanyaan-pertanyaan yang melayang di kepalaku. Entah apa yang dia pikirkan?
Sudah tiga hari aku tidak menemukan di mana Dewi berada. Di sekolahpun dia tidak ada, saat itu juga aku merasa sangat kehilangan, entah apa yang terjadi? Hari ini aku memutuskan untuk pergi menjenguk Dewi di rumahnya dengan ditemani adikku. Saat aku dan adikku membuka pintu, terdengar suara seorang laki-laki menyebut namaku. “Tian?? Kamu Tian, kan?? Saya ayah dari Dewi” kata lelaki itu. “Oh, om ayah Dewi?? Saya baru saja ingin menjunguk Dewi, kata teman-temannya, Dewi sudah tiga hari tidak masuk, katanya sakit. Apa benar, om?” tanyaku khawatir. “Benar, tapi sekarang dia sudah sembuh. Dia bilang kamu butuh donor mata untuk mata kamu, ya? Om sudah Tanya ke pihak rumah sakit, katanya ada sepasang mata yang didonorkan. Om dating kesini ingin menawarkan kamu untuk operasi mata, seluruh biayanya akan om tanggung karena kamu adalah sahabat dari anak om. Apa kamu mau? Ini permintaan dari Dewi, lho!!”kata ayah Dewi. “Saya mau om, saya mau!”jawabku senang.
Setelah melalui tahap operasi, akhirnya aku bisa melihat juga. Aku sudah tidak tahan lagi ingin segera memberi tahu Dewi bahwa aku sudah bias melihat lagi, aku kangen padanya. Saat aku bertanya kepada ayah Dewi, dia malah memberikanku sepucuk surat. Betapa kagetnya aku setelah membaca surat itu.Surat itu, dari Dewi.

From : Dewi
To : Tian
Tian... Maaf, mungkin saat kamu membaca surat ini, aku sudah tidak ada di samping kamu lagi. Maafin aku, ada satu hal yang selama ini belum kamu tau dari aku, karena aku terlalu takut untuk kehilangan kamu. Selama ini aku terkena penyakit kanker rahim, itu sebabnya aku sering mengeluh kesakitan. Aku tau umurku sudah tidak lama lagi, aku meminta ayahku untuk mendonorkan kedua mataku untuk kamu, karena aku tau dengan kedua mata itu hidupmu akan jauh lebih bahagia, walau tanpa aku di sisimu. Setelah kamu baca surat ini, mungkin aku telah tiada. Aku hanya meminta satu permohonan dari kamu, tolong jaga kedua mata itu, karena hanya itu yang bias aku berikan kepada kamu, sahabat sejatiku.Terima kasih atas semua yang telah kamu berikan untukku.

Salam manis
Sahabatmu,
Dewi

Kesedihanku yang tak terbendung lagi, itu adalah kedua kalinya aku kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidupku. Setelah aku tahu dia pergi meninggalkanku, aku sadar akan apa yang telah dia katakan tempo hari, jika aku bisa melihat aku harus memberinya bunga. Aku tahu apa yang dia maksudkan, aku segera pergi untuk membeli bunga dan meletakkannya di atas batu Nisan bertuliskan Dewi, nama sahabatku. Kini aku tahu betapa besar pengorbanannya untuk diriku, betapa besar kasih sayangnya sebagai seorang sahabat sejati. Dan tak akan pernah ada satupun orang yang bisa mengantikanya di hatiku. Kini aku tahu apa itu sahabat sejati, yang selalu ada untukku. Dia adalah anugrah terindah yang diciptakan Tuhan bagiku. Kini aku percaya bahwa malaikat memang benar-banar ada, walau tak semua malaikat bersayap. Karena sahabat adalah MALAIKAT TAK BERSAYAP, dan Dewi adalah adalah Malaikat Tak Bersayap ku.

Tidak ada komentar: