Senin, 07 Maret 2011

HUJAN FEBRUARI

Jam waker di atas meja belajarku menunjukkan pukul empat lewat. Namun langit senja di atas sana seakan ingin cepat-cepat berganti malam. Seharusnya aku dapat melihat langit merelakan mentari sore ini demi rembulan malam nanti. Tetapi yang ku temui di sore ini adalah hujan deras yang belum mau berhenti. Makin seram karena petir dan kilat yang juga cukup dahsyat.            Aku melihat fenomena itu dari balik jendela kamarku. Memandangi jalanan yang basah, memandangi dedaunan yang pasrah di jatuhi tetes demi tetes air hujan.            Hujan. Sebenarnya aku tak ingin berada pada musim penghujan. Biarlah berlalu, dan aku tak ingin lagi mengingatnya. Tapi keadaan ini benar-benar membuatku merasakan rindu, memaksaku untuk kembali mengenangnya.            Jika ada yang bertanya kapan pertama kali aku jatuh cinta, aku akan menjawab kala hujan menahan kepergiannya. Kala duduk berdua beradu pandangan mata, dan aku mulai merasakan getaran-getaran itu, detak jantung yang tak wajar, lebih cepat dari biasanya. Boleh dikatakan kala hujan Februari itu adalah awal kedekatanku dengan seseorang yang biasa saja namun begitu istimewa. Sejak saat itu aku mulai mencintai hujan, bahkan aku ingin setiap hari hujan menyapaku meski hanya sekelumit waktu. Dan hujan akan menahannya selalu, dan selalu bersamaku.            Kini, Februari datang lagi. Dan hujan  ini menyambutnya. Ah, memang ada yang kurang di Februari kali ini, tanpa senyum dan tawa renyahnya. Tanpa cerita-cerita konyolnya yang ia kisahkan seraya melawan derasnya hujan yang saat itu tak pernah mau berhenti hingga malam mendekati.             ♥            “Ri, apa yang kau rasakan ketika kau bersamaku?”            Pertanyaan itu langsung saja keluar dari mulut Dave ketika ia baru saja duduk di kursi kantin sekolah. Aku yang sedang mengunyah bakso dengan semangat, langsung terdiam kaku dengan posisi tangan memegang sendok dan garpu. Dave menatap tajam mataku yang juga menatapnya tak berkedip.            “Ri, kau cukup menjawabnya dengan satu kata. Senang, atau bahagia, atau juga mungkin kau bosan. Terserah kau” tambah Dave.            Aku segera menelan bakso yang barusan belum selesai ku lumat. Lalu bersiap berfikir sejenak untuk menjawab pertanyaan Dave yang sama sekali tak ku duga bahwa ia akan bertanya demikian.            “Kau sendiri bagaimana? Aku akan menjawab pertanyaanmu setelah mendengar jawabanmu”            “Kau memang aneh, aku tanya justru kau berbalik tanya”            “Lebih baik kau jawab saja, kalau kau ingin tahu jawabanku”            Dave diam. Namun tak lama kemudian ia menjawab pertanyaanku, “Aku bahagia bersamamu, Ri. Bahkan aku ingin selalu bersamamu”  Baru saja aku seperti melihat langit yang mendung kembali membiru, matahari kembali tersenyum, angin lembut menggodaku. Serasa jiwaku terbang, melayang.“Aku juga merasakan hal yang sama sepertimu, Dave” ungkapku.Dave tersenyum. Senyum yang mungkin biasa saja bagi mereka, tetapi bagiku adalah senyum termanis yang pernah ku lihat.“Tetapi kita tak bisa bersama lagi” ucap Dave pelan, tetapi sungguh keras menghujam jantungku.“Kenapa, Dave? Apa aku bersalah padamu?” tanyaku masih tak mengerti.“Tidak, Ri. Sama sekali tidak. Justru aku yang bersalah padamu” jawab Dave. Aku makin tak mengerti.“Tapi kau tak punya salah apa-apa kepadaku, Dave”“Tetapi aku punya salah yang kau tak pernah tahu apa kesalahanku itu” raut Dave terlihat bahwa ia memendam perasaan bersalah yang begitu dalam. Ia menundukkan kepalanya dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Aku diam dalam kebingungan, dan menunggu Dave melanjutkan ucapannya yang menurutku belum selesai itu.“Sebenarnya ada wanita lain di hidupku sebelum aku dekat denganmu, Ri. Aku mengkhianatinya karena aku mencintaimu. Dan selama ini aku membohonginya dan juga membohongimu. Maafkan aku”Ucapan Dave berhenti setelah ia meminta maaf padaku, dan setelah kata terakhirnya itu aku hanya dapat meneteskan air mata yang berusaha ku tahan di sudut mata.♥Waktu memang akan terus berjalan, tak akan pernah menoleh sedetikpun. Dan itu berarti hanya akan ada kenangan, tak akan pernah kembali menjadi kenyataan seperti dahulu. Aku hanya dapat membiarkan semuanya berlalu begitu saja, meninggalkan aku sendiri, menenggelamkan aku dalam sepi. Semuanya terjadi semenjak ia memberikan kejujuran padaku tentang status asmaranya. Dia telah menjadi milik yang lain jauh sebelum kami dekat, meskipun dengan mudah ia juga mengatakan bahwa ia mencintaiku. Pernyataan yang cukup mengagetkan sekaligus meremukkan jantungku. Namun aku berusaha untuk menghargai setiap kejujurannya.            Aku melepaskan dan merelakannya untuk wanita malang itu yang tak mendapatkan cinta yang utuh dari kekasihnya. Aku berharap dengan begitu akan sedikit mengurangi rasa bersalahku padanya karena telah mengambil sedikit cinta dari kekasihnya. Aku tak pernah menyalahkan siapa-siapa selain diriku, karena entah mengapa aku begitu yakin bahwa Dave benar-benar mencintaiku, dan aku tak akan menyalahkan Dave atas semua yang terjadi ini, karena cinta datang dengan sendirinya, pada siapapun, tanpa diduga.            “Selamat tinggal, Dave! Selamat tinggal pangeran hujan”. Mungkin kata itu yang semestinya ku ucapkan di awal perpisahan aku dan Dave. Dan kini aku baru dapat mengucapkannya karena aku baru sadar ternyata Dave benar-benar meninggalkanku.

Tidak ada komentar: