Kamis, 21 April 2011

FIRST LOVE NEVER DIE



Dia bukan cowok yang bertubuh atletis, punya tampang keren ataupun punya predikat cowok gaul. Dia hanya cowok biasa namun memiliki sepasang mata yang sangat indah. Selalu menjadi juara umum satu setiap semester.
Aku mengaguminya. Sangat. Hingga aku tak menyadari, jika rasa kagum yang kurasakan untuknya berubah menjadi rasa suka. Bahkan aku selalu merindukannya, setiap hari.
“Lo beneran suka sama Mahesa, Len?” Farah teman sebangkuku bertanya sangsi.
“Iya, kenapa?”
“Mahesa, kan . . . .”
“Pincang maksud lo?” potongku cepat.
Farah meringis. “Tipe kan selevel Revan, Roy atau . . . .”
“Enough, hun. Jangan sok tahu, deh!” tukasku cepat.
“Secara lo kan cantik gitu, Len!” puji Farah tulus.
“Thanks for your compliment, dear!” sahutku enteng.
“Sst, doi dateng, tuh!” Farah menyikut lenganku.
Kulihat Mahesa berjalan tertatih-tatih karena ukuran kaki kirinya tidak sama dengan ukuran kaki kanannya. Namun ketidak sempurnaan fisiknya tak mengurangi rasa kagumku untuknya.
“Hai, sapaku sedikit bergetar.
“Hai juga.” Mahesa tersenyum dan binar matanya yng indah tertuju tepat memandangku. Entah kenapa, aku merasa yakin sekali jika Mahesa pun menyukaiku. Ia selalu menatapku lembut. Sangat lembut.
Mahesa berlalu dengan meninggalkan senyum tulusnya untukku.
“”Gue deg-degan, Far. Tadi sebenernya gue pengen banget ngajakin doi ngobrol bentar. Ya, apalah gitu basa-basi. Tapi asli, gue malu banget. Gue malu kalau Mahesa tahu perasaan gue,” kataku sedikit gugup.
“Kenapa lo mesti malu?”
“Gue takut kalau dia nggak punya perasaan yang sama kayak gue.”
“Tembak aja langsung biar lo tahu dia juga suka nggak sama lo!” usul Farah.
“Gilingan lo, Far. Gue kan cewek nggak mungkin mesti nembak duluan, sama kakak kelas lagi.”
“Nggak masalah kali. Yang penting gimana caranya kita bisa mengungkapkannya dengan manis dan elegant,” saran Farah.
Namun aku tak pernah mengikuti saran Farah. Aku hanya bisa berharap, Mahesa dapat mengerti ada cinta yang kupunya untuknya di setiap senyum dan tegur sapaku.
Aku tak punya keberanian untuk mengatakan rasa sukaku pada Mahesa. Secara aku masih kelas satu SMP dan Mahesa dua tahun diatasku. Aku melihat sosok Mahesa begitu dewasa, kalem, lembut dan disegani teman-temannya karena kepandaiannya.
Hari demi hari terus bergulir. Tak pernah ada percakapan khusus diantara aku dan Mahesa. Hanya sebatas saling melempar senyum dan tegur sapa ala kadarnya jika kebetulan kami berpapasan. Aku tak berani memulainya lebih jauh.
Farah sering merasa jengkel karena karena entah sudah berapa penolakan yang kuucapkan pada setiap cowok yang mencoba untuk mendekatiku. Hatiku tak bergeming meski cowok itu adalah Gilar, coverboy sekolah kami. Gilar gigih mencoba menarik perhatianku meski sudah kukatakan berkali-kali kalau aku tak bisa menerima cintanya.
Kuakui Gilar memang sarat pesona. Tampan, tajir en jago matematika. Namun kebersahajaan Mahesa mampu mengalahkan pesona Gilar.
“Apa yang kurang dari gue, hingga lo nggak bisa nerima gue, Lenia?” tanya Gilar ketika pertama kali aku menolaknya.
“Nggak ada yang kurang. Lo nyaris sempurna. Cuma masalahnya pesona yang lo punya nggak bisa ngeluluhin hati gue. Sorry!” jawabku ringan.
Gilar terlihat putus asa. Ia menyentuh pundakku erat. “Len, gue nggak akan berhenti sampai disini. Gue akan terus buktiin kalau gue bener-bener sayang sama lo!”
Ah, Gilar . . . mungkin percuma kamu terus mencoba mengambil hatiku dengan segudang perhatianmu. Aku terlanjur jatuh cinta pada Mahesa. Namun aku pun selalu gundah sendiri. Andai saja Mahesa segigih Gilar. . . .
Hingga suatu hari.
“Len, Lenia . . . gue punya kabar bagus buat lo. Coba tebak?” Farah menjejeri langkahku menuju kantin sekolah.
“Kabar kabur?” sahutku tak begitu peduli. Paling-paling dia membawa kabar dari Gilar atau mungkin cowok yang lain.
“Ye, ngasal banget sih, lo. Lo tuh dapet salam dari Mahesa,” kata Farah membuat napasku terhenti sesaat.
“Ulangi Far, apa yang barusan lo bilang?” sahutku sangsi.
“Kemaren pulang sekolah, gue papasan sama Mahesa di depan ruang OSIS. Dia negor gue dan bilang titip salam buat lo. Trus dia nanya, lo udah punya cowok belom, soalnya dia suka sama lo. Gitu dia bilang, Len!” papar Farah sungguh-sungguh.
“Lo nggak lagi ngarang, kan?” Aku masih tetap tak percaya.
“Iris kuping gue kalau gue bohong!” sahut Farah ketus.
Aku melonjak girang mendengar penuturan Farah. Perasaanku serasa melayang. Norak banget, ya? Tapi aku betul-betul senang. Mahesa kirim salam untukku? Dia suka aku?
Oh Tuhanku, sulit kupercaya. Aku tahu betul reputasi Mahesa. Ia bukan tipe cowok yang sembarangan bilang suka terhadap cewek. Mahesa cowok yang pendiam, sederhana dan belum ada satu cewek pun yang menarik perhatiannya. Itu referensi yang kutahu tentang Mahesa dari teman-temannya. Farah pun tak mungkin mengada-ada, ia sahabat baikku dan aku percaya padanya.
Setelah mendengar kabar tersebut dari Farah, aku berniat menegur Mahesa lebih dari kata “HAI”.
“Hai, Len . . . gue mau tanya sesuatu sama lo!” tegur Gilar siang harinya di ruang OSIS.
“Hm, apa tyuuuh?” jawabku cuek.
“Gue denger, lo dapet salam dari Mahesa, beneran?”
Aku mengernyit. “Farah yang cerita?” tanyaku.
“Nggak pentinglah dari siapa. Cuma gue heran aja kok dia pede banget ya kirim salam buat lo. Secara gue yang jelas-jelas di atas dia susah banget dapetin lo,” sahut Gilar membuatku jengah.
“Maksud lo di atas dia?” tantangku.
“Len, Mahesa itu, kan . . . .”
“Kenapa? Mahesa si pincang? Itu kan julukan lo sama dia? Lo tahu kenapa sedikitpun gue nggak tertarik sama lo? Lo tuh arogan, sok kecakepan, selalu menganggap remeh orang lain dan gue nggak suka itu!” Aku emosi.
“Lenia, gue . . . .”
“Cukup, Gilar. Asal lo tahu, salam dari Mahesa jauh lebih berarti daripada perhatian-perhatian lo selama ini. Jujur gue akui gue jatuh cinta pada Mahesa.” Aku jeda sesaat. “Mahesa si pincang!” lanjutku mantap.
Bertepatan dengan kalimat terakhir yang kuucapkan, Mahesa masuk ke ruang OSIS. Aku melihatnya tertegun menatapku. Aku cemas sekali. Apa Mahesa cuma mendengar kalimat terakhirku saja? Gawat. Mahesa bisa salah duga. Duh, Tuhan!
Mahesa menunduk, ia berjalan melewati aku dan Gilar, mengambil beberapa lembar kertas A4 dari atas tray di dekat komputer. Kemudian Mahesa berlalu meninggalkan ruang OSIS tanpa sedikitpun menoleh ke arahku.
Gilar tersenyum puas. Aku menelan ludah kecut. Mahesa pasti salah paham, aku harus menjelaskan persoalan yang sebenernya pada Mahesa. Tapi tentunya aku harus bicara pada Farah. Karena Farah adalah satu-satunya orang yang bisa kumintai pendapatnya.
“Gimana dong caranya gue bisa ngomong sama dia, Far? Dulu, lidah gue kelu tuk berucap, sekarang gue malah jadi gagu beneran buat jelasin ke dia. Mahesa pasti salah paham. Gue yakin itu, Far!”
“Afirmasinya jangan jelek begitu, dong!” sergah Farah.
“Buktinya sekarang dia selalu nunduk kalau ketemu gue. Padahal kan sebelumnya nggak pernah. Dari kejauhan aja, dia udah fokus ngelihat ke gue,” bantahku.
Aku blingsatan tak karuan. Sejak saat itu aku tak lagi melihat senyum di wajah Mahesa. Aku kehilangan tatapan indah matanya.
Tak ada lagi tegur sapa di antara kami. Mahesa selalu menunduk dan menunduk bila berpapasan.
Aku kehilangan Mahesa. Aku kehilangan kesempatan untuk bisa dekat dengannya. Padahal aku sudah sangat senang dengan salam yang ia berikan untukku. Aku belum sempat bilang pada Mahesa, bahwa aku menyambut baik kiriman salamnya. Bahwa aku sangat merindukannya.
Bodoh. Aku bodoh sekali. Kenapa juga aku harus menyebutnya pincang. Tapi aku tak bermaksud apa-apa. Aku hanya menegaskan pada Gilar bahwa meskipun Mahesa pincang, aku sangat menyukainya!
Aku benar-benar telah kehilangan Mahesa tanpa pernah sempat aku menjelaskan hal yang sebenarnya. Mahesa, maafkan aku!

Lima Tahun Kemudian
Kembali aku melihat Mahesa di kampus yang sama denganku. Dia terlihat makin dewasa, makin tampan dan aku semakin mencintainya.
Mahesa, lihatlah aku! Aku Lenia, gadis kecil yang dulu kau kirimi salam. Aku sudah menjelma menjadi gadis yang cantik dan perasaan yang kupunya masih tetap sama.
Mahesa memang sempat melihatku, menatapku lekat di kampus ini. Namun tatapannya kosong, tak kutemukan kelembutan yang dulu senantiasa terpancar dari matanya. Lalu setelah itu ia tak peduli kepadaku. Tak pernah menoleh lagi, sama seperti dulu. Ia selalu menunduk dan menunduk jika melihatku.
Mahesa, aku yakin kau pasti ingat aku. Apa kau membenciku? Ah, andai saja aku punya kesempatan menjelaskan yang sesungguhnya. Namun sepertinya percuma, seribu kali aku jelaskan pun, kau tak mungkin berpaling dari gadismu.
Ya, kini ada seorang gadis manis yang selalu berjalan di sampingmu. Tertawa bersamamu, yang selalu kau rapikan anak rambut di dahinya, yang selalu menggandeng lenganmu mesra.
Mahesa . . . betapa beruntung gadis itu bisa mendapatkan cintamu. Kau tampak bahagia. Akupun bahagia meski jauh di sudut hatiku aku merasakan perih yang luar biasa. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu.
“Sayang, dari tadi matamu nggak berkedip lihat Mahesa sama ceweknya? Kenapa? Mereka kelihatan mesra, ya?” Prama membuyarkan lamunanku.
“Kamu tahu Mahesa, Pram?” tanyaku.
“Tentu. Mahesa kan satu-satunya mahasiswa baru yang lulus tes akselerasi semua mata kuliah tingkat satu. Aku kagum sama dia. Pinter banget!” puji Prama tulus. “Hei, kok ngelamun lagi, sih?” lanjut Prama sambil menyentuh daguku.
“Nggak pa-pa kok, aku juga kagum sama dia. Udah pinter, trus dapet cewek super manis lagi. Beruntung banget, ya! Kataku miris.
“Namanya Liliana, sahabatku sejak SMU. Liliana sangat menerima Mahesa apa-adanya. Makanya Mahesa sangat sayang pada Liliana,” kata Prama.
Liliana. Nama yang manis. Semanis wajahnya. Mahesa, andai kau tahu . . . jauh sebelum kau mengenal Liliana, ada seorang gadis yang lebih dulu bisa menerimamu apa adanya. Aku, Mahesa. Meski Prama Yudistira adalah kekasihku kini, namun tak sedikitpun ia bisa menggantikan posisimu di hatiku.
Bukan hanya Prama. Namun Leo yang ketua OSIS di SMUku dulu, Andi yang seorang model dan Aji yang anak konglomerat. Semua tak ada yang bisa membuat hatiku berpaling darimu. Aku melewatkan hari-hari bersama mereka. Namun tiap detik aku tak pernah bosan menggumamkan sebuah nama di hatiku. Namamu, Mahesa.
“Hai, ganggu bentar boleh, ya!” Prama menegur Mahesa. Mahesa dan Liliana tersenyum.
Li, gue mau ngenalin cewek gue. Namanya Lenia.” Prama merengkuh pundakku.
“Hebat lo, Pram. Cewek lo cantik banget!” sahut Liliana pada Pram.
“Hai, gue Liliana. Prama cowok yang sulit jatuh cinta sama cewek, lho. Begitu lihat lo, hatinya baru bergeming. Selamat, ya!” Liliana mengulurkan tangannya padaku. Aku menyambutnya hangat.
“Oh ya, kenalin juga ini Mahesa, cowok tersayang gue!” Liliana menjatuhkan kepalanya di pundak Mahesa. Aku tercekat melihatnya.
Aku dan Mahesa mengulurkan tangan bersamaan. Tuhan, mengapa debaran jantungku begitu hebat? Telapak tangan Mahesa terasa hangat sekaligus dingin.
“Mahesa,” kata Mahesa datar. Datar sekali.
“Lenia,” sahutku lirih.
Ada yang luruh dari tampuk hatiku. Aku ingin menangis. Oh Tuhan, andai saja ada bahasa mata, mengertikah Mahesa jika seorang Lenia, adik kelasnya dulu teramat merindukannya?
Cemburu luar biasa menerpaku melihat Liliana menggamit lengan Mahesa penuh cinta.
Biarlah. Biarlah Mahesa tak pernah tahu hasrat indah yang kupunya untuknya. Aku mencintainya. Tulus. Tanpa perlu dia tahu, tanpa perlu cinta ini berbalas.
Namun Mahesa, ketahuilah satu hal. Hingga kini, tak ada satupun lelaki yang sanggup mengalahkan keindahan matamu. Matamu teramat indah. Meski binar-binar cinta yang dulu senantiasa terpancar untukku tak lagi kutemukan.
Terima kasih untuk salamnya dulu. Salam darimu adalah hal termanis yang hingga kini masih segar dalam ingatanku.
Kau adalah cinta pertamaku. Dan akan selalu seperti itu. Selamanya.

Tidak ada komentar: